img

Kerjasama Lintas Iman di Sulawesi

Sebagai implikasi dari realitas perbedaan agama di masyarakat, selama ini yang cenderung lebih diperhatikan publik dan media adalah terjadinya polarisasi dan ketegangan di antara para pihak yang berbeda identitas keagamaannya (intra dan antar agama). Kecenderungan tersebut tampak jelas dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017, bulan Mei yang lalu. Dalam peristiwa tersebut, politisasi agama, untuk memobilisasi dukungan dan memenangkan calon yang didukung, berlangsung massif. Seiring dengan itu, kelompok-kelompok intoleran intensif menebar kebencian, tidak hanya di Jakarta, namun juga di pelbagai kota lainnya. Tak terelakkan bila kemudian kohesi sosial di masyarakat menurun. Menurut hasil jajak pendapat Litbang Kompas (Kompas, 22 Mei 2017), proporsi terbesar responden, nyaris separuh, mengafirmasi bahwa solidaritas sosial dan toleransi antar umat beragama di masyarakat saat ini semakin lemah.

 

Situasi dan persepsi di atas telah membuat banyak orang menjadi pesimis. Terlebih, di saat yang sama, kelompok intoleran-dengan-kekerasan, yang berjejaring lintas negara, juga mengalami arus pasang. Kejadian bom bunuh diri di Kampung Melayu baru-baru ini, juga peristiwa pendudukan Kota Marawi, Philipina, negara tetangga Indonesia, membuat orang semakin pesimis. Di tengah pesimisme seperti ini, lumrah bila kemudian muncul pertanyaan, apakah relasi antar identitas yang berbeda, seperti agama, memang ditakdirkan selalu dalam kondisi bersitegang? Ataukah kecenderungan tersebut lebih merupakan bentukan sosial sehingga relasi sosial yang bersahabat, seperti saling memahami dan menghormati eksistensi pihak yang berbeda, bahkan melampauinya, seperti berlangsungnya perjumpaan-perjumpaan, kerjasama, juga dapat diusahakan dan bisa terjadi?

 

Jauh sebelum Pilkada DKI Jakarta, ketegangan dan konflik dengan menjadikan identitas agama sebagai dalih dan sarana mobilisasi, sudah berulang kali terjadi. Yang menonjol misalnya dalam konflik-kekerasan yang pernah terjadi di Ambon dan Poso. Seiring dengan itu, persoalan relasi antar agama dan intra agama juga menjadi fokus perhatian. Pelbagai usaha dilakukan para pihak demi membangun relasi yang lebih baik. Dialog antar umat beragama, atau dialog antar iman, menjadi diskursus dominan. Perjumpaan, interaksi, bahkan kerjasama antar pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda, atau lintas iman, dirintis dan berkembang. Tidak hanya di daerah di mana ketegangan dan konflik sudah atau pernah terjadi, namun juga di daerah-daerah yang berpotensi atau rawan konflik.

 

Di Sulawesi (Makassar, Poso, Manado, Gorontalo, Palu, Kendari, Bolaangmongondow, Luwuk), di mana Interfidei ikut memberi perhatian sejak tahun 1999. Interaksi dan kerjasama di daerah-daerah tersebut tumbuh melalui komunitas-komunitas yang saat ini masih relatif kecil, tetapi bertahan, menyebar, meluas dan aktif. Misalnya di Manado dan Makasar. Di tengah pesimisme yang berkembang, meski belum massif, situasi tersebut dapat menggugah, menjadi inspirasi, dan membantu menumbuhkan optimisme. Untuk itu, pemahaman yang lebih baik atas fenomena tersebut sangat dibutuhkan.

 

Melalui studi ini, Interfidei bermaksud mengkaji dan mengetahui lebih jauh, bagaimana interaksi dan kerjasama lintas iman di sejumlah kota di Sulawesi tersebut berlangsung? Faktor-faktor apa saja yang memungkinkan dan mempengaruhinya? Bagaimana mereka bisa bertahan.

 

Paper bisa diunduh di s.id/kli17