img

CERITA PEMUDA PENGHAYAT KEPERCAYAAN DALAM MENGELOLA PERBEDAAN

(Keterangan Foto: Generasi muda Penghayat Palang Putih Nusantara )

Menjadi dan menjalani kehidupan sebagai penganut penghayat kepercayaan bukanlah sesuatu yang mudah. Kira-kira begitulah yang dialami oleh Bagas (20) dan Anis (17). Keduanya merupakan penganut Kejawen Urip Sejati atau lebih dikenal dengan nama Palang Putih Nusantara, yakni sebuah perkumpulan Penghayat Kepercayaan yang ada di Dusun Ploso, Kelurahan Tileng, Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Keduanya berkenan membagikan ceritanya sebagai Penganut Kejawen kepada kami sehingga masyarakat bisa mengetahui keberadaan mereka dan bisa menerima serta menghormati keyakinan mereka.

 

Bagas bercerita kepada kami, saat duduk di bangku SD dan SMP ia diwajibkan mengikuti pelajaran agama Islam. Selain itu, di kampungnya ia juga terdorong mengikuti TPA mengingat teman-temannya juga setiap sore berangkat TPA.

 

rasanya pie gitu ya kalau nggak ikut, karena teman mainnya pada ikut TPA Mbak!” kata Bagas.

 

“Kita juga sebagai orang tua secara psikologis merasa juga Mbak, kita diomongi tetangga, kok punya anak nggak disuruh ke masjid, nggak ke TPA, ngga diajari ngaji, agamanya apa?” Suroso (50), ayah Bagas yang juga merupakan Pemuka Penghayat Kepercayaan menambahkan.

(Keterangan Foto: Pak Suroso/Baju Hijau sedang menjelaskan tentang Penghayat Palang Putih Nusantara dan hambatan-hanbatan yang dihadapinya)

 

Jika saat usia remaja Bagas masih ikut-ikutan teman dalam menjalankan keyakinan Islam, saat bersekolah di SMKI Bantul, Bagas mulai memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya sebagai Penganut Kejawen. Mulanya Bagas keberatan ditanyai agama oleh guru mata pelajaran sejarah, karena menurutnya tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu yang dipelajarinya.

 

Waktu tahun pertama di SMKI, saya ditanya oleh guru sejarah saya, “agamamu apa lek ?” dalam hati saya keberatan, kenapa ditanya agama, ‘kan nggak ada hubungannya sama pelajaran, ya udah, saya jawab “saya Kejawen”, guru saya tadi kaget mendengar jawaban saya, “itu agama apa ? nggak ada itu agama seperti itu”. Bagas menirukan percakapan dengan gurunya.

 

Saat semester dua di SMKI, Bagas mengetahui bahwa negara melalui Kemendikbud mewajibkan pendidikan keagamaan bagi penganut kepercayaan untuk belajar keyakinan mereka di sekolah. Sehingga sekolah didorong untuk memiliki guru pelajaran penghayat kepercayaan untuk siswa-siswanya. Bagas mengaku, sekolahnya saat itu tidak langsung menerapkan peraturan tersebut. Ia mengadu kepada Ayahnya untuk mendorong sekolah mengadakan kelas keagamaan bagi penganut penghayat kepercayaan sehingga Bagas tidak harus mengikuti kelas mata pelajaran agama lain yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Suroso memenuhi permintaan anaknya. Ia mendatangi sekolah dan melakukan audiensi dengan kepala sekolah. Permohonan Bagas dan ayahnya direspon dengan baik oleh pihak sekolah. Akhirnya Bagas lulus dengan mata pelajaran penghayat kepercayaan, bukan mata pelajaran agama lainnya.  

(Keterangan Foto: Bagas (kanan), Anis (tengah) dan beberapa teman penghayat lainnya. Bagas sedang menceritakan pengalamannya)

Hal yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh Anis. Sejak SD hingga sekolah di SMKI Wonosari sekarang ini, Anis mengikuti pelajaran keagamaan Islam. Sehari-hari ia berangkat ke sekolah mengenakan jilbab dan setiap waktu sholat zuhur ia ikut sholat dengan teman-temannya. Ia memutuskan mengenakan jilbab dan menunaikan sholat zuhur karena merasa tidak nyaman ketika melihat teman-teman lainnya memakai jilbab dan sholat zuhur. Ia juga enggan mengatakan ke pihak sekolah bahwa ia merupakan seorang penganut kepercayaan.

Gimana ya mbak… kalau nggak pakai jilbab dan ikut sholat,kan aneh, karena cuma saya sendiri, lagi pula itu sholatnya ada guru yang ngabsen. Saya belum berani bilang ke guru mbak, khawatir nanti gurunya bertanya macam-macam.”

 

Sehari-hari Anis menjalani kehidupan sebagai seorang penghayat sebagaimana keluarganya menjalani. Ia sering mengikuti acara 1 Syuro dan penutupan bulan Syuro yang kerap diadakan di rumahnya setiap tahun. Dalam keluarganya, Anis banyak belajar kepada simbah kakung. Beliau merupakan penganut Kejawen yang taat. “Beliau sering berdo’a baik di sanggar maupun di halaman rumah saat malam hari. Menurut saya itu (berdo’a di malah hari) bagus dilakukan, karena kalau di malam hari pikiran kita juga tenang, tidak ada yang mengganggu, sehingga kita bisa khusyuk. Waktu SD saya sering ikut berdo’a dengan simbah, baik di sanggar maupun di kala menjelang ujian.” Jelas Anis.

 

Sejak kecil Anis dikenal tekun dan rajin mempelajari Kejawen. Ia belajar melalui buku-buku yang dimiliki oleh kedua orangtuanya yang juga merupakan penganut kepercayaan.

Saya suka membaca buku-bukunya bapak sama ibu tentang Kejawen, ya walaupun saat itu saya masih belum mengerti sebenarnya apa yang saya baca tapi saya mencoba saja karena ya memang saya hobi membaca buku selain buku pelajaran hehehe. Tapi semenjak saya SMP dan SMK kan saya di Wonosari saya juga jarang di rumah jadinya saya sudah jarang ke sanggar namun masih tetap berdoa seperti yang saya bisa, yang penting saya percaya di manapun saya berdoa walaupun tidak di sanggar, doa saya tetap didengar Tuhan. Menurut saya tempat bukan hal yang mutlak harus di situ tapi yang paling penting niat saya dan saya percaya bahwa Tuhan tau dan mendengar saya berdoa.

 

Anis mengakui bahwa ia masih sangat pemula dalam belajar Kejawen dan belum mendalami secara serius. Hal inilah yang membuat dirinya belum memiliki keberanian untuk menyampaikan kepada pihak sekolah bahwa ia penganut Kejawen. Ia khawatir terjebak pada perdebatan-perdebatan yang bisa menyudutkan dirinya dan mengganggu konsentrasinya dalam belajar. 

Jadi saya sekarang masih fokus di pelajaran agama di sekolah dan belum sempat mendiskusikan secara serius tentang agama yang dianut bapak.

 

Ketika ditanya, bagaimana rasanya menjalankan dua ritual keyakinan yang berbeda Anis menjawab dengan sedikit reflektif. Di satu sisi jiwa dan hatinya cenderung kepada ajaran Kejawen, namun di sisi lain ia berhadapan dengan realitas yang menganggap ajaran Kejawen itu tidak lumrah (sesat).

Saya sebenarnya takut, menjalankan sholat padahal saya ini Kejawen. Saya rasa Tuhan Maha Tahu, kelak jika saya sudah memiliki ilmu dan keberanian yang cukup, saya akan berusaha mengatakan bahwa saya penganut Kejawen.” Terang Anis.

 

Reaksi beragam ditampakkan oleh teman-teman Anis saat mengetahui dia seorang penghayat kepercayaan.

“Kalau respon mereka (teman-teman), ada yang merasa aneh bahkan sampe ada yang nyaranin buat keluarga saya pindah ke agama mereka saja tapi saya ya diam saja, ada juga yang sekedar bertanya seperti apa ajarannya. Tapi juga ada yang bodo amat, terserah apapun keyakinannya yang penting saya temenan sama kamu apapun keadaannya.” Terang Anis.

 

Kondisi-kondisi yang dialami Bagas dan Anis bukanlah sesuatu yang mudah. Kendati mereka sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang penghayat kepercayaan mereka memilih tidak menyatakan keyakinannya. Hal ini dikarenakan pemahaman umum yang cenderung menghakimi dan menentang ajaran penghayat sebagai sesuatu yang sesat. Dalam hal ini, anak-anak muda penghayat lebih memilih tidak mengatakan keyakinannya untuk tidak terjebak pada perdebatan-perdebatan teologis yang mengganggu niat mereka untuk belajar. Tetapi bagaimana seharusnya dunia pendidikan melihat kondisi semacam ini ? Sejauhmana kesiapan guru-guru untuk menerima dan mendengarkan suara-suara minor seperti Bagas dan Anis ? (Rwd)

Liputan oleh: Ruwaidah Anwar (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Volunteer Institut DIAN/Interfidei)