img

Mengelola, Memaknai, dan Merawat Perbedaan: Penguatan Peran Guru dalam Merawat Kebinekaan

 

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat dewasa ini, berbagai perubahan sosial, politik, teknologi, dan gaya hidup, turut memengaruhi mentalitas, etika, dan moral masyarakat. Nilai keadilan, kejujuran, kebenaran, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan semakin terabaikan, sementara perkembangan media sosial dan AI turut menghadirkan tantangan baru di tengah masayarakat tersebut.

Kondisi-kondisi itu juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Di era serba digital ini, guru tidak hanya dituntut mencerdaskan, tetapi juga memberi keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendidikan perlu menjadi ruang bersama untuk menumbuhkan manusia yang cerdas, bijak, berkomitmen dan berintegritas, serta mampu hidup saling menghargai serta saling menghidupkan.

Berangkat dari tantangan-tantangan tersebut, Institut DIAN/Interfidei melakukan Pelatihan Tahap II “ Mengelola, Memaknai dan Merawat perbedaan” di Kalangan Guru-guru tingkat SLTA (SMA/SMK Negeri dan Swasta) di DIY, Pada 14-17 Setember 2025, di Omah Camelia, Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan 29 guru dari berbagai background pengampu mata Pelajaran di sekolah. Mereka dari kabupaten Sleman, Kulon Progo, Kota Madaya[Yogyakarta dan Gunung Kidul. Pelatihan ini adalah lanjutan dari workshop tahap pertama yang telah berlangsung pada bulan Mei 2025 serta dihadiri oleh 23 orang Guru dari 3 Kabupaten dan 1 Kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Acara ini dibuka oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga  (Dikpora) provinsi DIY yang diwakili oleh Bapak Paryana,  M.T. (Kepala Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman). Dalam sambutannya, Paryana mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Institut DIAN/Interfidei dalam meningkatkan kapasitas dan keterampilan guru-guru di DIY.

 

“Indonesia adalah negara yang terdiri dari multi-agama dan kebudayaan. Untuk menjaga keharmonisan tersebut, elemen-elemen di mayarakat perlu mengelola, memaknai, dan merawat perbedaan. Oleh karenya, Guru sebagai salah satu elemen masyarakat yang memiliki tugas untuk mendidikan[ para siswa di sekolah, penting untuk memiliki pemahaman dalam konteks pluralitas, agar pemahaman tersebut dapat dibagikan dan diajarkan kepada siswa-siswa’’. Ujarnya.

Selaras denga apa yang diungkapan oleh perwakilan dari Dikpora DIY terkait peran Guru, Direktur Institut DIAN/Interfidei. Pdt. Elga J. Sarapung, menjelaskan latar belakang terselenggaranya pelatihan ini dan alasan pentingnya Guru-guru memiliki pemahaman dan pemaknaan terkait perbedaan.

“Sejak tahun 2004, Institut DIAN/Interfidei telah melaksanakan pelatihan lintas iman dengan melibatkan guru-guru agama untuk menumbuhkan pemahaman dan pengalaman tentang pentingnya merawat keberagaman dalam konteks masyarakat Indonesia. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, keterlibatan tersebut perlu diperluas kepada guru-guru dari berbagai disiplin ilmu, agar tidak hanya mampu merespons dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak, etis, dan positif, tetapi juga memiliki pemahaman dan pengalaman yang kuat dalam merawat kebinekaan Indonesia. Dengan demikian, nilai-nilai keberagaman dapat dihadirkan dan ditanamkan dalam berbagai proses pembelajaran di sekolah.” Ungkapnya

Elga J. Sarapung berharap ketika guru-guru peserta pelatihan sudah kembali ke sekolah, dapat menjadi agen dalam merespon dan membantu memecahkan masalah-masalah dalam isu keberagaman di sekolah masing-masing, berdasarkan realitas yang ada di masyarakat, tidak hanya bergantung pada kurikulum yang sudah ada dan bisanya disampaikan secara mekanistis saja, tanpa upaya membangun daya kritis para peserta ajar.

Muh. Ridwan, Guru agama Islam di SMKN 6 Yogyakarta, sebagai salah satu peserta tahap I dan II, mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti pelatihan tersebut. Baginya pelatihan ini sangat bermanfaat untuk lebih mengenal individu-individu yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Dari pelatihan tahap I, ia menjadi salah satu tokoh di sekolah yang menginisiasi bakti sosial yang tidak hanya diberikan untuk komunitas muslim, tetapi juga komunitas agama lainnya. 

“Saya belajar banyak terkait toleransi dan perbedaan. Setelah melakukan pelatihan di tahap I, sekolah kami rutin berkunjung ke panti asuhan yang tidak hanya berbasis Islam tetapi juga berbasis agama lain. Ungkapnya.

Dari pelatihan ini, Institut DIAN/Interfidei berharap dapat membantu menciptakan ruang-ruang belajar kepada para Guru-guru [e6] agar memiliki kemampuan dan pemahaman dalam upaya mendidik para siswa untuk menjadi generasi yang tidak saja cerdas, tetapi juga kritis,bijak dan mampu hidup berdampingan dengan sesama manusia maupun alam semesta dan Sang Pencipta. Secara khusus, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi medium penguatan kepada Guru SLTA di DIY untuk menjad]  terbekali dan memiliki pengalaman yang kuat untuk hidup bersama dalam perbedaan untuk mewujudkan DIY sebagai provinsi yang nyaman dan aman bagi semua elemen masyarakat.

 (Diskusi lintas iman bersama tokoh-tokoh agama dari kiri kenan: tokoh kelompok penghayat kepercayaan sapta dharma, tokoh agama katolik, tokoh agama protestan, tokoh agama buddha)

(Foto bersama para peserta pelatihan bersama para fasilitator)

(Kegitan ice breaking sebelum materi dimulai)