img

SEKOLAH LINTAS IMAN SEBAGAI PENDIDIKAN ALTERNATIF

“Jika kita menikmati hal yang sensitif dalam agama sebagai bahan candaan tanpa adanya rasa saling ketersinggungan, maka di situlah kehidupan beragama sudah dapat  berdamai dan tidak akan ada lagi ketegangan.”

Kita tidak bisa menafikan bahwa keragaman dalam hidup bermasyarakat selain dapat menjadi kebanggaan akan kekayaannya di sisi lain juga dapat menjadi suatu ancaman akan potensi ketersinggungan yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat tentu akan menimbulkan sekat-sekat yang saling membatasi dan dari sekat- sekat tersebut bisa saja terjadi saling curiga satu sama lain. Jika ketegangan ini terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan konflik akan terjadi atas nama perbedaan tersebut. Mulai dari perbedaan dalam hal etnis, suku, budaya, bahkan agama, semuanya tidak menutup kemungkinan terjadi konflik yang diawali dari sikap tertutup dan rasa saling curiga karena adanya perbedaan.

Berangkat dari berbagai faktor tersebut, sikap untuk saling terbuka, saling memahami, hingga saling menghargai suatu perbedaan diperlukan untuk meredam ketegangan yang terjadi demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang rukun dan harmonis. Sekolah Lintas Iman (SLI) yang merupakan kegiatan rutin atas kerjasama Institut DIAN/Interfidei dengan Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, dan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, diharapkan mampu menjadi wadah bagi kalangan mahasiswa (calon pemimpin agama) untuk memberi pemahaman, mengajarkan, dan mengaplikasikan tata cara hidup rukun dan harmonis di tengah keragaman. Adanya forum yang dilaksanakan setiap tahun ini selain dapat melahirkan generasi-generasi yang toleran, juga diharapkan mampu membina peserta yang berpartisipasi di dalamnya menjadi pribadi yang tidak mudah terpancing dan terprovokasi dengan isu-isu yang sangat sensitif di masyarakat seperti etnis dan agama.

Adanya forum SLI cukup membantu untuk belajar bagaimana cara untuk saling terbuka dan menghargai perbedaan sebagai sebuah kekayaan. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum SLI yang lebih menekankan studi lapangan dibandingkan terus berteori di dalam kelas. Dalam kurikulum SLI, para peserta diajak untuk belajar langsung ke lembaga-lembaga yang mempunyai keterkaitan langsung dengan masalah keagamaan seperti Pesantern, Gereja, Pura, maupun Vihara. Begitupun dengan metode pembelajaram yang dipilih tidaklah monoton dengan ceramah satu arah antara pembicara dengan audiens. Sebaliknya, selain dipandu oleh fasilitator, dalam setiap sesi juga diselipkan metode diskusi kelompok yang telah dibagi secara acak. Dengan demikian antar peserta bisa saling mengenal dan tidak ada lagi ketegangan yang timbul akibat sekat-sekat perbedaan latar belakang etnis dan agama dari setiap peserta. Tidak lupa pula pembicara dan fasilitator yang bergabung juga merupakan perwakilan dari setiap agama yang tentunya dengan senang hati akan saling terbuka untuk mengenalkan ajaran agama masing-masing.

Dengan kurikulum, metode pembelajaran, dan fasilitator yang saling terbuka, Sekolah Lintas Iman ini dapat menjadi pendidikan alternatif bagi mereka yang merasa tidak puas atau bahkan dikecewakan dengan sentimen-sentimen agama yang terlalu membuat tegang. Kampus yang belum mampu menyediakan kelas lintas iman secara formal tentu tidak bisa terlalu kita harapkan untuk mencegah terjadinya ketegangan antar umat beragama. Hal maksimal yang mampu disediakan oleh kampus hanya berupa pemahaman atas hakikat beragama dan sejarah kemunculan agama tersebut. Ini belumlah cukup untuk membuka pengetahuan dan cakrawala beragama. Sesi saling berinteraksi dan bertegur sapa (udar prasangka) yang ditawarkan oleh SLI kiranya menjadi solusi alternatif untuk mengenal lebih jauh pengikut agama atau kepercayaan yang lain. Dengan demikian tidak akan ada lagi yang saling ditutup-tutupi antar peserta karena sejak awal telah diajak untuk saling berinteraksi dan membangun hubungan emosional.

Atas dasar bahwa semua agama mengajarkan moralitas dan kebaikan, maka dari itu perbedaan-perbedaan dalam ritual keagamaan diharapkan tidak lagi menjadi permasalahan bagi kita dalam berinteraksi dan bersosialisasi. Di setiap sisi SLI pula setiap peserta saling melebur dan saling menceritakan latar belakang keagamaan masing-masing. Meski tidak semua menceritakan latar belakangnya secara besar-besaran, satu hal yang patut kita syukuri bahwa dengan bergabung dalam forum ini kita bisa menambah wawasan tentang kehidupan beragama dari mereka yang tidak satu aliran keimanan dengan kita. Bisa dilihat di sesi pertama ketika peserta ditugaskan untuk berdiskusi dan mencoba untuk merumuskan prasangka terhadap agama dan etnis tertentu. Jalannya forum sangat kondusif dengan berbagai canda tawa tanpa adanya rasa saling tersinggung. Padahal di sisi lain pada sesi ini peserta tidak hanya membahas prasangka yang berkonotasi negatif, prasangka-prasangka yang berkonotasi negati terhadap agama dan etnis tertentu dibahas dalam sesi ini. Namun lagi-lagi para peserta justru menikmatinya dengan santai dan saling terbuka untuk mengklarifikasi prasangka-prasangka yang ditujukan ke masing-masing etnis atau agama.

Maka dari itu tidak berlebihan jika kita menganggap Sekolah Lintas Iman ini sebagai pendidikan alternatif bagi mereka yang ingin lebih jauh mengetahui tentang hakikat hidup beragama. Pendidikan alteratif ini dimaksudkan untuk menutupi kekecewaan mereka yang tidak mendapatkan pengajaran serupa di tempat lain, dalam hal ini kampus yang cenderung hanya menerima mahasiswa dari golongan tertentu saja. Di samping itu, dengan kurikulum dan metode pengajaran yang berbeda dari lembaga-lembaga pendidikan formal mampu membuka peluang bagi para pesertanya untuk aktif mencari tahu dan tidak hanya sekedar mengikuti kelas secara formal. Pada akhirnya para peserta yang tergabung dapat menikmati jalannya forum dari awal hingga akhir dengan berbagai kesan positif di dalamnya.

Penulis: Ammar Mahir Hilmi (Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga, Peserta SLI XI)