Pendidikan, baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun pembentukan diri, mengasah karakter, kepribadian, mentalitas, spiritualitas adalah hal-hal yang sangat penting di segala jaman, sepanjang manusia masih ada di muka bumi ini. Artinya, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, baik untuk diri sendiri dan bagi orang lain. Diri kita pun bisa menjadi “cerminan pendidikan” bagi orang lain. Pertanyaannya, apakah dalam realitas, perjalanan praktek dan manfaat pendidikan apapun, berjalan dalam “keseimbangan” seperti itu?
Mahatma Gandhi, mengatakan dalam salah satu di antara “seven social sins”-nya adalah : “Education without character”. Kalimat ini menjadi sangat relevan ketika yang terjadi di masyarakat adalah, seakan-akan pendidikan hanya sebatas dan seluas jangkauan belajar formal dan mendapatkan berbagai gelar akademis dalam rangka “penyesuain” tingkat atau derajat sosial di masyarakat atau kepangkatan dalam sebuah jabatan yang akan berimplikasi kepada jumlah gaji dan tingkat kedudukan, tanpa memikirkan dengan serius “keseimbangannya” dengan soal-soal yang berkaitan dengan kepribadian, karakter, kejujuran, kebenaran, keadilan, ketulusan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial-budaya di tengah masyarakat yang majemuk, masyarakat yang beranekaragam tingkat kehidupan sosial-budayanya, yang memerlukan sensitivitas sosial satu terhadap yang lain, apapun perbedaannya. Masyarakat atau lingkungan manapun membutuhkan seseorang atau sekelompok orang yang sadar dan selalu melek, memiliki hati nurani dan perilaku yang memenuhi syarat “keseimbangan” tersebut yang berujung pada tindakan kemanusiaan dan perdamaian.
Apalagi sekarang dengan menguatnya pengaruh pentingnya teknologi media, dimana bermedia sosial sudah sedang meningkat, tidak hanya sebagai “gaya hidup” anak muda, tetapi sebagai sebuah “kebutuhan penting” dalam kehidupan. Konsekuensi logisnya, alat teknologi bermedia-sosial pun menjadi sangat penting untuk dimiliki. Padahal tidak semua warga sanggup mengadakannya. Lebih memprihatinkan lagi, tidak semua orang memahami etika manfaat menggunakannya. Contoh paling konkrit, misalnya : a) selama masa pandemi covid-19 ini, ketika semua kegiatan belajar, sejak tingkat PAUD sampai dengan Perguruan Tinggi, hanya bisa dilaksanakan dari rumah dengan menggunakan pertolongan teknologi “jarak jauh” melalui zoom, daring, atau yang lainnya. Keadaan ini tidak memungkinkan terjadinya perjumpaan langsung, proses encounter di antara sesama manusia, antara guru dan murid, dosen dan mahasiswa, bahkan di ruang-ruang keagamaan, antara pimpinan agama dan umatnya; b) berseliwerannya kabar bohong, hoax, bahkan membully teman, orang lain, serta beraneka macam kabar dengan konten yang provokatif.
Dua topik talkshow yang sudah digelar selama dua minggu sebelumnya : “non-violence” atau “emoh kekerasan” serta “lingkungan”, mengisyaratkan bahwa PENDIDIKAN adalah hal yang sangat penting. Bukan yang hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan dengan itu mendapat beraneka macam gelar, tetapi justru “keseimbangan” itu, yaitu : pendidikan karakter, budi pekerti. Ya, pendidikan yang membantu setiap orang untuk dewasa, matang dalam kepribadian, bertanggungjawab dan memiliki sensitivitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat : tidak egois, tidak serakah, melek dan konsisten dengan kejujuran, keadilan, kebenaran, memiliki sensitivitas sosial, bela-rasa dan berperilaku non violence dalam bentuk apapapun, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap alam semesta.
Soal “keseimbangan” tersebut bagi Ibu Gedong Bagoes Oka menjadi sangat penting. Dapat dimengerti juga, mengapa bagi Ibu Gedong, “pendidikan dini” (PAUD) sangat penting dan karena itu di Ashram Gandhi sejak tahun 1982 dikembangkan TK Gandhi. Sejak itu, filosofi Gandhian sudah diberikan kepada para murid : non violence, cinta kepada alam, tidak memakai plastik, vegetarian, dan lain-lain.
Untuk mempelajari kembali filosofi Pendidikan Gandhian yang dikembangkan oleh Ibu Gedong Bagoes Oka melalui Gedong Gandhi Ashram, kami mengundang Ibu/Bapak, Saudara semua untuk hadir di dalam Talkshow Seri Ketiga Peringatan 152 Tahun Gandhi Jayanti, 100 Tahun Ibu Gedong Bagoes Oka dan Peringatan International Peace Day 2021 dengan Tajuk *Refleksi Makna Tiga Isu Ghandian dalam Memaknai Praktek Hidup Beragama di Masyarakat (Emoh Kekerasan, Lingkungan dan Pendidikan).*
Waktu Pelaksanaan:
Jum'at, 15 Oktober 2021
Topik: Pendidikan
Pukul 14.00-16.00 WIB|15.00-17.00 WITA|16.00-18.00 WIT
Kegiatan ini dapat ditonton kembali di YouTube Institut DIAN Interfidei