img

Mengenal Gereja Ortodoks: Mozaik Kekristenan dalam Kebinekaan Indonesia

Ketika membicarakan Kekristenan di Indonesia, masyarakat hanya mengenal tradisi Katolik dan Protestan. Padahal, di bumi Nusantara memiliki ragam lain dari kekristenan yaitu Kristen Orthodox. Hadirnya Gereja Orthodox menawarkan perspektif yang berbeda dalam pembelajaran kebinekaan dan keberagaman Indonesia.

Dalam rangka memperluas pemahaman mengenai keberagaman tradisi Kekristenan, penulis yang saat ini adalah mahasiswa magang institut Dian/Interfidei berkesempatan mengunjungi Gereja Orthodox Enoria Agios Dionysios dari Zakynthos dalam bingkai kegiatan sosial immersion. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah, liturgi, simbol, serta spiritual Gereja Ortodoks melalui diskusi bersama Romo Lazarus Bambang Sucanto.

Mengenal Gereja Orthodoks

Gereja Orthodox Enoria Agios Dionysios dari Zakynthos mengambil nama dari Agios Dionysios dari Zakynthos, seorang kudus yang hidup pada abad ke-16 hingga ke-17 di wilayah Yunani Barat. Gereja ini berdiri pada tahun 1998, dengan liturgi pertama dilaksanakan pada Oktober tahun yang sama. Secara administratif, gereja ini berada di bawah keuskupan yang berpusat di Singapura dengan uskup Konstantinos (Tsilis) sebagai gembala, karena hingga kini belum terdapat keuskupan Orthodox di Indonesia. Adapun pusat patriarakat Orthodox berada di Istanbul, tepatnya di kawasan Fanar, di bawah kepemimpinan Patriark Bartolomeus I. Dalam perkembangan Gereja Orthodox di Indonesia, Romo Lazarus Bambang Sucanto memiliki peran penting. la merupakan orang pertama yang ditahbiskan menjadi imam Orthodox di Indonesia pada tahun 1992, tepat di Solo.

Salah satu ciri khas Gereja Orthodox adalah penggunaan ikon. Dalam tradisi Ortodoks, ikon tidak hanya dilihat sebagai karya seni atau lukisan religius, melainkan dipahami sebagai "jendela menuju surga". Karena itu, pembuatan ikon dilakukan dengan disiplin rohani. Seorang ikonografer menjalani puasa dan doa selama proses berkarya. Ikon menggunakan warna-warna alami dengan gaya yang memadukan unsur natural agar tokoh mudah dikenali serta unsur simbolis yang menggambarkan realitas eskatologis yang belum sepenuhnya dapat dipahami manusia. Ikon juga dipercaya menghadirkan kesadaran akan persekutuan umat dengan para kudus yang turut memuliakan Allah. Oleh sebab itu, penghormatan kepada ikon dilakukan dengan membungkukkan badan dan menciumnya. Tindakan tersebut bukanlah penyembahan terhadap benda, melainkan penghormatan kepada pribadi yang digambarkan dalam ikon.

Ajaran dan Tradisi Gereja Ortodoks

Dalam aspek ajaran, Gereja Ortodoks sangat menekankan kesetiaan kepada tradisi apostolik (paradosis), yaitu ajaran yang diwariskan para rasul baik secara lisan maupun tertulis. Tradisi dipandang sebagai kesinambungan kehidupan Gereja sejak masa para rasul hingga saat ini.

Hal tersebut juga tampak dalam perayaan Ekaristi. Berbeda dengan tradisi Barat yang umumnya menggunakan roti tidak beragi, Gereja Ortodoks menggunakan roti beragi (?ρτος). Ragi dipahami sebagai lambang kebangkitan, kehidupan baru, serta pengakuan bahwa Kristus memiliki dua kodrat, yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia.

Tradisi Ortodoks juga lebih memilih menggunakan istilah "misteri" daripada "mistis". Misteri dipahami sebagai kenyataan ilahi yang sungguh terjadi dan diyakini oleh iman, meskipun manusia tidak mampu sepenuhnya menjelaskan bagaimana peristiwa tersebut berlangsung. Dalam Ekaristi, misalnya, umat percaya bahwa Kristus sungguh hadir dalam roti dan anggur, walaupun cara kehadiran itu tetap menjadi misteri Allah.

Kekayaan simbol juga terlihat dalam tata ibadah. Tanda salib dilakukan dari kanan ke kiri. Tiga jari pertama yang disatukan melambangkan Tritunggal Mahakudus, sedangkan dua jari yang ditekuk melambangkan dua kodrat Kristus. Gerakan dimulai dari dahi, kemudian ke dada atau perut, dilanjutkan ke bahu kanan dan bahu kiri sebelum ditutup dengan telapak di dada.

Penggunaan dupa dalam liturgi didasarkan pada Kitab Mazmur, yang menggambarkan doa umat naik ke hadirat Allah seperti harum dupa. Selain itu, arah bangunan gereja selalu menghadap ke timur sebagai simbol Kristus Sang Terang Dunia serta pengharapan akan kedatangan-Nya kembali sebagaimana digambarkan dari timur ke barat. Selama liturgi, umat umumnya berdiri sebagai bentuk penghormatan dan kesiapsediaan di hadapan Allah, meskipun pada bagian-bagian tertentu mereka juga diperbolehkan duduk sesuai ketentuan liturgi.

Melalui kunjungan ini, tampak bahwa Gereja Ortodoks memiliki keberlimpahan tradisi yang sangat mendalam. Setiap simbol, gerakan, maupun unsur liturgi tidak sekadar menjadi ritual, melainkan mengandung makna teologis yang mengarahkan umat untuk mengalami perjumpaan dengan Allah secara utuh melalui kehidupan ibadah. Seluruh informasi dalam artikel ini diperoleh melalui diskusi bersama Romo Lazarus Bambang Sucanto saat kegiatan kunjungan ke Gereja Orthodox Enoria Agios Dionysios dari Zakynthos.    

Refleksi Perjumpaan

Melalui kunjungan ini, tampak bahwa Gereja Ortodoks memiliki keberlimpahan tradisi yang sangat mendalam. Setiap simbol, gerakan, maupun unsur liturgi tidak sekadar menjadi ritual, melainkan mengandung makna teologis yang mengarahkan umat untuk mengalami perjumpaan dengan Allah secara utuh melalui kehidupan ibadah. Seluruh informasi dalam artikel ini diperoleh melalui diskusi bersama Romo Lazarus Bambang Sucanto saat kegiatan kunjungan ke Gereja Orthodox Enoria Agios Dionysios dari Zakynthos.

Setelah berdiskusi dan melakukan refleksi atas kunjungan tersebut, penulis mengingat lagu The Sound of Silence karya Simon dan Garfunkel, yang sering kali dipahami sebagai suatu kritik terhadap manusia modern yang hidup di tengah- tengah kebisingan, akan tetapi justru manusia modern kehilangan kemampuan untuk benar- benar mendengar. Melalui sepenggal lirik “people talking without speaking, people hearing without listening” dapat dilihat sebagai ironi kehidupan, komunikasi semakin banyak, akan tetapi realitanya relasi semakin dangkal. Manusia dipenuhi suara, informasi, dan aktivitas tanpa henti, namun semakin sulit memberi ruang bagi keheningan yang memungkinkan berefleksi dengan dirinya sendiri maupun dengan Allah.

Pengalaman mengunjungi Gereja Orthodox merupakan salah satu hal yang menarik, teruatama mengenai misteri. Dalam tradisi barat, iman sering kali didekati melalui penjelasan yang sistematis dan rasional. Sebaliknya Orthodox mengerjakan bahwa tidak semua karya Allah dapat dijelaskan sepenuhnya oleh akal manusia. Ketika umat menerima ekaristi, mereka percaya bahwa Kristus sungguh hadir, tetapi mereka tidak menjelaskan secara tuntas bagaimana hal itu terjadi. Melalui hal inilah misteri bukan dipandang sebagai kekurangan pengetahuan, melainkan sebagai pengakuan bahwa Allah selalu lebih besar dari pada kemampuan manusia untuk memahami-Nya.

Ditulis oleh Zefanya Grace Asa, Mahasiswa Magang Interfedei dan Mahasiswa UKDW Yogyakarta

Editor: David Akbar H. Rafsanjani