img

Kebebasan Beragama Di Tingkat Akar Rumput

by : Prof. Nelly Van Doorn-Harder Dan Dr. Mega Hidayati (Ed.)


Buku ini diterbitkan dalam kerja sama antara Institut DIAN/Interfidei dengan Norwegian Center for Human Rights – University of Oslo.
 
Di Indonesia, soal Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, secara konstitusional seharusnya tidak menjadi masalah lagi, karena sudah jelas. Pancasila dan semboyan bhineka tunggal ika serta UUD 1945 menjamin hal itu. Apalagi Indonesia selalu dikatakan sebagai negara demokratis, seyogyianya harus menjadikan hak-hak minoritas sebagai bagian tak terpisahkan dari dasar pemikiran dan implementasi politik , hukum dan sosila budaya dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
 
Berbagai tulisan dalam buku ini, menjelaskan bayak hal. Di satu pihak ada kebanggaan luar biasa bahwa Indonesia memiliki masyarakat yang sangat majemuk, antara lain segi agama dan kepercayaan dan karena itu ada banyak perbedaan : sejarah, teologi, simbol, ekspresi-ekspresi kepribadian dan kelompok, jumlah anggota dan lain-lain. Semua itu manjadi ciri khas Indonesia yang tidak dapat di hindari, tidak bisa juga ditolak atau di tiadakan. Selain sudah menjadi sanatullah, juga memang benar sebagai fakta dan pengalaman hidup sehari-hari.
 
Pada pihak lain, ada juga pengalaman yang patut diratapi, kerena belum semua warga masyarakat memahami dan mempraktekan dengan baik dan benar, apa arti dan apa makna sanatullah, anugerah Allah dalam realitas. Masih banyak warga masyarakat belum paham secara benar, apa yang perlu dilakukan dengan semua itu agar perbedaan menjadi rahmatan lil-almin, menjadi berkat atau syalom eleichem bagi kehidupan bersama, bukan sekedar bagi individu atau kelompok berdasarkan label agama atau aliran keagamaan atau denominasi tertentu.
Sekarang ini, kejadian itu terjadi bukan hanya pemahaman tentang kagamaan atau beragama yang dangkal dan sempit, tetapi juga pengaruh kepentingan politik sesaat. Agama dipolitisir; orang-orang beragama pun mudah digunakan untuk kepentingan politik kekuasaan dan uang. Perbedaan dalam kemajemukan bisa menjadi “lahan” empuk untuk merusak kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.
 
Enam pokok penting yang perlu dicatat dari isi buku ini:
1. Tidak dapat disangkal bahwa perbedaan itu bisa menciptakan stereotyping, prejudice, truth claim, bahkan stigma. Ini wajar, namun tidak bisa dibiarkan kewajaran ini karena bisa menimbulkan konflik. Perbedaan yang ada perlu dikelola.
2. Bagaimana mengelola perbedaan tersebut, antara lain melalui perjumpaan dan dialog-dialog, melalui aksi dan aktivitas bersama. Bukan hanya dilakukan di lingkup pimpinan, namun di lingkup akar rumput juga. Dialog yang terjadi tidak pada tataran persamaan tapi mesti juga pada yang benar-benar berbeda, symbol, teologi, tradisi, sejarah dan lainya (literasi keagamaan).
3. Peran negara dalam semua lingkup tidak mungkin tidak dalam keterlibatannya mewujudkan keindonesiaan. Selain harus jelas, tegas dan konkret, tidak boleh diskriminatif. Negara tidak boleh membiarkan korban terus berjatuhan dengan melindungi pelaku.
4. Indonesia ini sangat kaya dengan berbagai potensi yang mampu mengelola perbedaan dengan baik. Kerja sama menjadi hal yang mutlak.
5. Untuk semua itu, perlu ada program yang mampu menerjemahkan hal-hal di atas ke dalam bentuk konkret sehingga terjadi perubahan signifikan dalam soal-soal mempraktikkan KBB secara benar di Indonesia.
6. Dalam semua situasi, tentang sekarang dan masa depan media sangat penting. Bagaimana media bisa menjadi alat pendidikan warga.
Kita yakin bahwa Indonesia bisa melakukan dan membuktikan bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang layak dihuni oleh semua makhluk hidup yang beradap, cintai damai dan pembela kehidupan.

Info Pemesanan Buku 0274-880149 (WA)