• Home
  • Berita
  • Peran Agamawan Penting Dalam Pemberantasan Perdaga
img

Peran Agamawan Penting Dalam Pemberantasan Perdagangan Manusia

JAKARTA – Kasus perdagangan manusia masih terjadi di Indonesia. Peran agamawan diyakini menjadi kunci utama pemberantasan perdagangan manusia, khususnya di wilayah-wilayah basis Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan perbatasan Indonesia-Malaysia.

 

“Kami ingin sekali ini (memerangi perdagangan manusia) menjadi gerakan bersama, terutama bagi jemaat agama-agama dan pimpinan agama,” kata Direktur Institut DIAN/Interfidei, Elga Sarapung saat konferensi pers secara daring yang bertajuk Memerangi Perdagangan Manusia di Masa Pandemi, Rabu (29/7).

 

Berdasarkan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) Komnas Perempuan, korban trafficking sebagian besar adalah perempuan atau anak perempuan. Hal ini diakibatkan relasi kuasa yang tidak setara yang di dalamnya terdapat ketidakadilan gender. 

 

Dalam menangani perdagangan manusia, perlu upaya preventif yang sistemik dari hulu ke hilir. Di hulu, harus memikirkan bagaimana keluarga korban terlindungi dari tipu daya trafficking. Ada faktor budaya juga yang menjadi alasan pembiaran trafficking terjadi. 

 

Dari faktor tersebut, peran agamawan diperlukan untuk masuk melakukan upaya penyadaran. Selain agamawan, peran pemerintah juga perlu diperkuat, entah regulasi, ataupun hal lain untuk melindungi setiap warga negaranya.

 

Direktur Eksekutif Migrant CARE Wahyu Susilo mengatakan, selain modus baru yang menggunakan pemanfaatan teknologi, persoalan pendampingan dan reintegrasi korban juga menjadi tantangan para aktivis di lapangan. 

 

Ia berharap, pentingnya perlindungan bagi para aktivis yang menggaungkan perdagangan manusia sebagai salah satu hal yang penting untuk diberantas. Di masa pandemi, selain hambatan mobilitas dalam layanan untuk para korban perdagangan manusia, hambatan lain juga terus mengganjal.

 

"Kebijakan sekuritisasi yang berpotensi pada kriminalisasi para aktivis pembela korban perdagangan manusia juga terjadi,” kata Wahyu.

 

Seperti diketahui, peringatan Hari Melawan Perdagangan Manusia Internasional (World Day Against Trafficking in Person) diperingati pada tanggal 30 Juli setiap tahunnya. Tema global Hari Melawan Perdagangan Manusia Internasional tahun ini adalah, Commited to The Cause: Working on The frontline to End Human Trafficking.

 

Untuk itu, Jaringan Zero Human Trafficking Network (ZTN) yang terdiri dari Migrant CARE, Vivat Indonesia, Fahmina Institute, dan Institut DIAN/Interfidei berkomitmen memerangi perdagangan manusia. (Herry Supriyatna)

.

.

Dikutip dari https://www.validnews.id/Peran-Agamawan-Penting-Dalam-Pemberantasan-Perdagangan-Manusia-vgC pada Jumat, 27 November