Berawal dari hasil evaluasi internal dan eksternal  Institut Dialog Antariman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei) dalam rangka usia 10 tahun (2001); Lembaga Antariman pertama di Indonesia yang berbasis NGO (Non Governmental Organization). Satu pertanyaan mendasar yang muncul saat itu adalah, apa relevansi dan manfaat dari kehadiran Interfidei bagi masyarakat? Pertanyaan ini muncul dari kesadaran terhadap situasi saat itu, di mana sedang sarat dengan peristiwa yang penuh dengan kekerasan dan melibatkan agama, khususnya agama Kristen (Protestan dan Katolik) dan Islam. Entah karena alasan teologis, politis, ekonomi, institusi atau pun karena ulah penganutnya. Katakanlah mulai dengan peristiwa Situbondo, Tasikmalaya, Jakarta sampai dengan konflik di Ambon, Halmahera dan Poso. Mengapa peristiwa-peristiwa itu lebih menggema di masyarakat dibandingkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga seperti Interfidei? Sebenarnya, sampai sejauhmana pengaruh kerja-kerja  dan kegiatan-kegiatan lembaga antariman seperti Interfidei di dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk? Atau, pertanyaan umum tetapi mendasar adalah, mengapa konflik atas nama agama bisa terjadi?

Dari situlah, dipikirkan bahwa penting sekali pertanyaan-pertanyaan yang sama dibawa ke dalam skop yang lebih luas, mulai dengan “lingkungan” Interfidei. Ide itu terwujud, yaitu mengumpulkan (hampir) semua kawan –sahabat Interfidei, individu dan lembaga dari berbagai daerah dan berbagai kalangan untuk membicarakan hal ini bersama-sama dan melakukan refleksi kelompok antariman Indonesia. Itulah pertemuan pertama dari Jaringan Antariman ini, bertempat di Malino tahun 2002. Secara kebetulan, pertemuan ini berlangsung di antara “pertemuan damai Maluku” dan “pertemuan damai Poso”. Dari sana kemudian dipikirkan perlu sekali untuk mengadakan pertemuan bersama seperti itu secara kontinu. Pertanyaannya, siapa yang akan melakukannya? Bagaimana melakukannya? Apa relevansi dan manfaat yang diharapkan dari pertemuan-pertemuan itu?.

Dalam pertemuan kedua (Candi Dasa, Karangasem, Bali tahun 2003), ketiga (Banjar Baru, Kalimantan Selatan tahun 2006) dan keempat (Yogyakarta tahun 2008) sudah berusaha  membentuk sebuah tim kerja yang anggotanya dipilih secara sporadis dari beberapa daerah, yaitu mereka yang dianggap memiliki kapasitas dan pengalaman dalam kerja-kerja untuk isu ini. Tetapi, tim ini tidak berjalan. Pernah memilih sebuah tim baru lagi yang orang-orangnya berada di Yogyakarta dan Semarang dengan asumsi akan lebih mudah berkomunikasi; juga tidak bertahan lama, macet di tengah jalan. Alasan paling utama adalah masing-masing punya kesibukan dan sebenarnya sama sekali belum memiliki pola pengelolaanjaringan yang memadai. Mulai pertemuan di Candi Dasa, Banjar Baru dan Yogyakarta (2008), konsep dan strategi sudah dibuat, tetapi belum juga membantu menggerakkan tim yang ada untuk menjalankan Jaringan ini dengan lancar dan kontinu.

Tanpa bermaksud mengambil alih tanggungjawab, tetapi sebagai inisiator sekaligus provokator, Interfidei berusaha untuk menjalankan peran mengelola Jaringan ini dan mengembangkannya sesuai dengan kemampuan dan tentu keterbatasan yang ada. Pola yang dipakai selama ini memang tidak terstruktur tetapi selalu melibatkan kawan-kawan Jaringan, terutama mereka yang aktif di dalam komunikasi berjejaring melalui mailinglist Jaringan Antariman Indonesia. Intinya, Jaringan ini harus tetap hidup, aktif, berkembang dan kelak diharapkan bisa menjadi kekuatan bersama yang membantu pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan perubahan bagi bangsa ini. Perubahan, di mana keadilan, kebenaran, kesetaraan dan perdamaian menjadi dasar dan tujuan dari perjalanan gerakan ini.

Konsekuensi logis dari itu, pertemuan-pertemuan Jaringan Antariman ini lebih mengikuti “kalender” kegiatan Interfidei dan kemampuan Interfidei yang terbatas : SDM, dana, kreativitas, dan lain-lain. Sekalipun perlu diakui bahwa selama ini ada media bersama yang dibuat: mailinglist jejaringtariman (ada  727 anggota, umumnya dari peserta, narasumber, panitia, fasilitator kegiatan Interfidei dan jaringan lokal di berbagai daerah serta kawan-kawan yang berjumpa dan berkenalan di berbagai pertemuan, Newsletter reguler Interfidei (terbit sejak tahun 1997 dan sekarang sudah 26 edisi) yang selalu memuat profil salah satu lembaga/komunitas antariman di berbagai daerah, serta kegiatan pendidikan alternatif untuk capacity building jaringan dan beberapa kegiatan pendidikan mengelola perbedaan/kemajemukan yang juga termasuk bagian dari program pendidikan Interfidei. Dengan begitu, penguatan dan pengembangan Jaringan cukup terpelihara, dengan catatan tidak semuanya aktif.

Keanggotaan dalam jaringan ini tidak saja para aktivis LSM berbasis antariman atau pluralisme, tetapi juga yang bergerak pada isu-isu lain seperti HAM, Demokrasi, Gender, HIV/AIDS, trafficking, LGBT, pendidikan agama, juga di kalangan kampus, para pemimpin agama-agama, guru-guru, tokoh adat, akademisi, jurnalis, budayawan, dan pemerintah. Artinya, dalam jaringan ini tidak eksklusif hanya LSM yang orientasi kerjanya tentang pluralisme atau interfaith, tetapi lebih luas dari itu. Sebab itu, sejak Konferensi V di Yogyakarta (dalam rangka 20 tahun Interfidei, 2011), yang menjadi perhatian dari Jaringan ini tidak hanya soal-soal di sekitar hubungan, dialog dan kerjasama antar dan intra agama dan keyakinan, tetapi juga soal-soal yang terkait dengan sensitifitas sosial agama-agama atau keprihatinan agama-agama terhadap persoalan-persoalan EKOSOB, hukum, politik, pendidikan, kesehatan, linkungan yang ada di sekitar dan di dalam kehidupan bangsa dan negara ini.

Jaringan Antariman Indonesia ini diharapkan akan menjadi bagian dari sebuah gerakan masyarakat sipil Indonesia untuk perubahan menuju Indonesia yang adil dan beradab.

  • img

    Wakil Walikota Makassar Apresiasi Seminar Perdamaian

    TUESDAY, 01/12/2015

    Seminar nasional dengan tema "Merajut Keutuhan NKRI Menuju Indonesia Damai" mendapat apresiaasi Wakil Walikota Makassar, Syamsu Rizal. Seminar yang dilaksanakan di Training Center UIN Alauiddin dihadiri sekitar 350

  • img

    Ketuhanan I.J. Kasimo

    MONDAY, 30/11/-0001

    Saudaraku, orang beriman itu mestinya "percaya" (berasal dari kata "bercahaya"). Cahaya murni keimanananya bisa menerangi segala ruang dengan memantulkan bias sinar yang sesuai dengan warna bejana. Bila warna

  • img

    Jaringan Antar-Iman Adakan Konferensi

    MONDAY, 30/11/-0001

    Jaringan Antar-Iman Indonesia (JAII) mengadakan konferensi nasional VI pada 19-23 Mei direncanakan dihadiri berbagai organisasi dari berbagai wilayah di Indonesia yang bekerja pada isu hubungan antar-iman.Konferensi kali ini

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 65
 Total Visitor : 112339
 Hits Today : 208
 Total Hits : 355231
 Visitor Online : 1