• Puasa dan Etika Timbal Balik untuk yang lain

    THURSDAY, 09/06/2016 ||00:00:00 WIB img

    Tiba saatnya bagi para penceramah Muslim untuk menyiapkan apa yang akan mereka sampaikan pada ceramah harian selama bulan Ramadhan.

    Ramadan mungkin satu-satunya waktu di mana ceramah agama yang ada lebih banyak menyampaikan tentang etika, moralitas, kesabaran, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan mengendalikan emosi – sebagaimana makna dari puasa itu sendiri- dari pada membahas isu identitas dan politik Islam. Kata puasa dalam bahasa arab, siyam atau sawm, berarti menahan atau menjauhkan diri dari sesuatu.

    Kewajiban dalam ibadah puasa adalah menahan diri dari kebutuhan fisik dan hawa nafsu seperti makan, minum, dan berhubungan sex selama siang hari.
    Tetapi untuk menyempurnakan puasa seseorang dan meningkatkan spiritualitas, seseorang harus menahan diri dari emosi negatif (marah, dengki, sombong, benci, dll) dan ambisi materialistik yang ingin dipenuhi, sebagaimana dikatakan dalam Al Quran la’allakum tattaqun “agar kalian bertaqwa kepada Allah”.

    Ajaran menahan diri dari materialisme untuk meningkatkan spiritualitas diajarkan oleh agama lain melalui berbagai cara dan tradisi termasuk puasa.

    Semua hal tersebut tentu saja baik, dan mungkin lebih dibutuhkan Muslim saat ini setelah beberapa tahun terakhir meningkatnya aksi intoleran dan radikalisme. Setelah 11 bulan umat Islam dihadapkan pada ceramah-ceramah yang dipenuhi dengan perdebatan teologis yang menyebarkan kebencian dan sekterianisme, Ramadhan, seharusnya menjadi selingan untuk introspeksi diri dan yang lebih penting untuk mengevaluasi kembali cara Muslim berhubungan dengan yang lain.

    Di antara ceramah yang biasa disampaikan oleh penceramah selama Ramadhan adalah bahwa puasa merupakan cara Muslim merasakan kehidupan kaum miskin dan papa. Meskipun ini bukan rasionalisasi atas ritual puasa dalam Islam, tetapi lebih kepada hikmah yang melekat dalam spiritualitas puasa, sebagai bentuk solidaritas muslim untuk merasakan ketidakberuntungan orang lain.

    Sebagai haasil dari berkembangnya empati, puasa merupakan manifestasi etik dari golden rule “Jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan terhadapmu” atau sabda Nabi Muhammad “Tidak disebut orang beriman seseorang sampai Ia mencintai saudaranya sebagaimana Ia mencintai dirinya sendiri.

    Apa kaitannya dengan intoleran dan sekterianisme? Dengan kepedulian terhadap yang miskin dan membutuhkan, umat Islam seharusnya membangun empati kepada mereka yang dipinggirkan, diusir, diasingkan oleh masyarakat, tidak hanya agama lain tetapi juga sesama muslim yang berbeda aliran seperti Syiah dan Ahmadiyah. Seperti kaum miskin, mereka juga secara politik dibatasi hak-haknya sebagai warga negara.

    Untuk itu berpuasa juga untuk merasakan penderitaan orang-orang yang diasingkan. Ini penting karena hati seorang muslim yang intoleran kurang memiliki empati, melihat dirinya dari perspektif orang lain. Hal ini sebagian disebabkan oleh pola pikir supremasi yang telah berkembang lebih di kalangan umat Islam Indonesia, yang mengarah ke pemenjaraan hak-hak minoritas.

    Supremasi di kalangan Muslim (Sunni) menghasilkan penghakiman terhadap orang lain sebagai sesat dan lebih buruk, bahkan mereka dianggap layak untuk dianiaya dan diberantas. Hak-hak dan kesetaraan warga negara dikorbankan atas nama ketertiban umum demi privilege golongan mayoritas. Pola pikir demikian dapat diubah jika kita bisa setidaknya mencoba membayangkan bagaimana jika kita yang menjadi minoritas, seperti di Barat, terutama di negara-negara di mana anti Islam dan nasionalisme yang berlebihan meningkat seiring dengan gelombang imigran dari timur tengah

    Banyak dari kalangan minoritas yang dianggap asing, menyimpang, bahaya bagi ketertiban umum, dll dan karena itu didiskriminasi, diusir atau malah dibunuh. Menjadi orang yang sesat itu relative. Jika menjadi sesat berarti memiliki keyakinan yang berbeda, Muslim juga termasuk sesat di mata orang Kristen, Yahudi, Hindu, Buddhis, dll dan sebaliknya.

    Lebih buruk lagi, setiap aliran di dalam Islam melihat satu sama lain sebagai yang sesat. Bayangkan bagaimana jadinya dunia ini jika menjadi sesat berarti layak untuk diasingkan karena menjadi sesat sama dengan memiliki keyakinan yang berbeda.
    Berpuasa, oleh karena itu, dapat dan seharusnya membantu kita menumbuhkan empati yang pada gilirannya membuka jalan untuk lebih banyak bertoleransi terhadap orang yang berbeda keyakinan.
    Hal ini tentunya tidak kalah penting daripada berempati terhadap orang miskin secara ekonomi - yang kadang-kadang juga diabaikan oleh umat Islam seiring meningkatnya konsumerisme meskipun bulan puasa.

    Selain itu, puasa juga harus dapat mengingatkan umat Islam bahwa Islam bukan hanya agama keyakinan dan hukum. Makna puasa yang sesungguhnya seharusnya mengingatkan kita bahwa Islam memiliki dimensi spiritualitas yang luas.
    Ada upaya dari beberapa kelompok Muslim untuk mereformasi Islam, untuk membawa kembali ke jalur yang tepat, dengan menekankan spiritualitas dan cinta, bukan aturan dan hukuman.

    Upaya ini dapat ditingkatkan dengan, antara lain, meningkatkan diskusi tentang pentingnya etika timbal balik dalam komunitas Muslim. Ramadhan adalah saat yang baik bagi penceramah untuk mengambil tema ini.

    Sumber: The Jakarta Post

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 39
 Total Visitor : 109185
 Hits Today : 78
 Total Hits : 344577
 Visitor Online : 1