• Belajar Keberagaman dengan Wayang Sayur

    MONDAY, 08/08/2016 ||00:00:00 WIB img

    Melalui media sayuran seperti kol, terong, worter dan bayam anak-anak diajarkan tentang keberagaman. Sebagaimana sebuah sayuran yang berbeda-beda namun memilki fungsi dan manfaatnya masing-masing.

    Puluhan anak-anak yang berasal beberapa komunitas agama termasuk dari Taman Pelajar Al-Qu’an An-Nur, Sekolah Minggu Greja Kristen Jawa (GKJ), Sekolah Minggu Vihara Karangdjati, dan Komunitas Guyub Bocah hadir dalam acara pagelaran wayang sayur yang diadakan oleh Institut Dialog Antariman Di Indonesai (Institut DIAN) di Balai Budaya Sinduharjo, Sleman.

    Ki Agus Bima Prayitnya bertindak sebagai seorang dalang namun kali ini ia menggunakan sayuran sebagai wayangnya. Kemudian anak-anak diminta menggambar sayuran di sebuah kertas lalu sayuran itu dijadinya wayang. Ki Bima, panggilan akrabnya langsung memegang kertas-kertas bergambar sayur dan dilanjutkan dengan mendongeng.

    Dongeng ki Ageng dibuka dengan nyanyian gundul-gundul pacul oleh anak-anak. Terlihat anak-anak yang mulanya malu-malu menjadi antusias saat didongengi.

    Dalam dongengnya Ki Bima banyak menyampaikan tentang nilai-nilai kehidupan, bagaimana menjadi orang tidak sombong, rendah hati, dan memahami satu sama lain.

    Ketua Panitia Meike Lusye Karolus, mengatakan metode pembelajaran yang dikenalkan kepada anak-anak ini merupakan metode baru. Melalui sayuran dan dongeng nilai-nilai keseharian supaya mudah diterima oleh anak-anak.

    “Saya lihat mereka puas sekali didongeni dengan alat peraga sayur-sayuran,” kata Meike saat dihubungi Harianjogja.com, Minggu (7/8/2016).

    Menurut Meike acara ini adalah untuk mengenalkan keberagaman sejak dini kepada anak-anak. Maraknya kasus intoleransi antar umat beragama menjadikan pendidikan mengenai keberagaman adalah suatu keharusan bagi generasi muda.

    Selesai acara anak-anak yang didamping oleh orang tuanya diajak untuk menanam bibit sayuran. Ajakan ini untuk mengajarkan anak-anak bahwa sayuran yang beragam dan bermacam itu harus ditanam dan dijaga. Hal itu agar anak-anak juga mampu menanamkan dan menjaga nilai-nilai keberagaman dalam diri mereka.

    Sumber: Harian Jogja

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 50
 Total Visitor : 64690
 Hits Today : 143
 Total Hits : 206579
 Visitor Online : 2