• Memahami Radikalisasi di Kalangan Terdidik

    FRIDAY, 18/03/2016 ||00:00:00 WIB img

    Kamis, 17 Maret 2016 Interfidei kembali mengadakan diskusi bulanan, kali ini dengan tema “Radikalisme di Kalangan Mahasiswa”. Dalam diskusi tersebut Mohammad Iqbal Ahnaf, peneliti sekaligus dosen Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM hadir sebagai pembicara. Mengawali materi yang Ia sampaikan, Iqbal bertanya apa makna radikal dan bagaimana seseorang bisa dikatakan radikal.

    Menurut Iqbal ada beberapa gejala radikalisasi yang muncul pada diri seseorang.  

    Gejala yang pertama adalah orang tersebut menolak untuk dialog atau berkompromi. “Dalam hal prinsip orang memang tidak mau berkompromi, tetapi bagi mereka yang radikal tidak ada keterbukaan untuk dialog. Semua harus sesuai dengan kemauan dia”, tutur Iqbal.

    Gejala yang kedua adalah memilih taktik atau strategi yang konfrontatif. Gejala radikalisasi dapat terlihat saat seseorang cenderung memilih jalur konfrontasi untuk menghadapi orang lain yang dianggap salah dan tidak sesuai dengan pemikiriannya.

    Gejala radikalisasi yang ketiga adalah menarik diri dari arus utama (moderat) ) baik dari sisi cara pandang dan sosialisasi. Iqbal mencontohkan bagaimana seseorang yang radikal perlahan-lahan mulai menghindar atau meninggalkan tradisi agama yang sudah lama hidup di masyarakat. Selain itu juga orang tersebut mulai membatasi pergaulannya dengan teman-teman yang memiliki “pemahaman” yang sama dengannya.

    Selanjutnya gejala keempat adalah bersikap skeptis (bukan kritis) terhadap system yang ada dan menuntut perubahan secara fundamental. Hal ini dapat kita lihat dari sikap orang-orang yang menentang pancasila dan demokrasi di Indonesia. Kekecewaan terhadap pemerintahan yang ada selama ini mendorong munculnya sikap-sikap tersebut.

    Gejala kelima adalah sikap toleran terhadap cara-cara kekerasan dan intimidatif. Seseorang yang memiliki sikap ini bisa saja tidak melakukan kekerasan dengan tangannya sendiri, akan tetapi Ia membiarkan atau bahkan mendukung kekerasan yang dilakukan terhadap kelompok yang dianggap “melenceng” dengan dalih mengoreksi perbuatan kelompok tersebut agar kembali ke jalan yang “benar”.

    Meski demikian Iqbal menambahkan bahwa kelimanya tidak selalu ada pada diri seseorang yang radikal, sangat mungkin gejala tersebut hanya 1-2 poin saja. Sikap-sikap tersebut, menurut Iqbal, dapat mudah kita cermati juga melalui postingan-postingan seseorang di media sosial.

    Apa saja yang menyebabkan seseorang menjadi radikal?

    Iqbal menjelaskan ada tiga aspek yang mempengaruhi seseorang menjadi radikal yaitu aspek mikro, meso, dan makro. Pada aspek mikro, hal-hal yang berpengaruh dalam radikalisasi berasal dari faktor pribadi seperti penolakan dari keluarga, krisis identitas, merasa tidak mendapat tempat di lingkungannya, hingga kemarahan yang melibatkan moral hingga memunculkan keinginan untuk balas dendam.

    Di level meso, lingkungan adalah faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi radikal. Iqbal mengilustrasikan seorang mahasiswa yang merantau ke suatu di Jakarta. Di Jakarta Ia jauh dari keluarga hingga membuat mahasiswa tersebut merasa terasing. Dalam situasi keterasingan ini organisasi radikal pintar memanfaatkan peluang dengan mendekati mahasiswa tersebut. Iqbal menekankan  bahwa seringkali orang diajak pada kelompok radikal tidak melalui pemaparan langsung terhadap wacana ideologi tetapi dengan ajakan makan bersama, ikut seminar mencari beasiswa, dan sebagainya. Dari pertemanan ini mahasiswa tersebut menemukan identitasnya. Simbol-simbol yang digunakan kelompok-kelompok radikal menjadi penting karena hal tersebut bagian dari identitas.

    Selain dua aspek di atas, tak dipungkiri ada faktor masuknya sektarianisme di Indonesia. Faktor inilah yang termasuk dapam aspek makro. Jaringan terorisme di luar negeri misalnya, juga turut serta berpengaruh dalam penyebaran radikalisme.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi radikalisasi di atas mampu memberi gambaran bagaimana seseorang menjadi radikal. Faktor-faktor pribadi menjadi pintu masuk bagi kelompok-kelompok radikal dalam mencari kader. Iqbal menjelaskan fase cognitive opening di mana seseorang yang mengalami krisis identitas maupun keterasingan merasa menemukan jawaban saat berjumpa wacana yang ditawarkan kelompok radikal.

    Radikalisme Marjinal & Urban

    Dalam kesempatan sore itu Iqbal juga menjelaskan istilah radikalisme marginal dan radikalisme kaum urban. Untuk radikalisme marjinal kemiskinan dan ketertindasan menjadi faktor pemicu sehingga muncul keinginan berontak. Berbeda dengan radikalisme marjina, radikalisme urban berasal dari kalangan mapan, seperti mahasiswa pada umumnya. Meski demikian kemapanan ekonomi ini juga tetap dibarengi dengan keterasingan yang biasanya juga ditanamkan melalui ujaran-ujaran kebencian. Strategi kelompok radikal Islam misalnya, mennggambarkan ketertindasan muslim di berbagai tempat untuk memunculkan perasaan dimiskinkan oleh golongan tertentu (misalnya kapitalis, zionis, Kristen, dan Cina). Perasaan menjadi korban ini yang kemudian dimainkan oleh kelompok radikal untuk memobilisasi orang melawan golongan-golongan yang dianggap menindas tadi.

    Media Sosial dan Ujaran Kebencian

    Media sosial turut berperan dalam proses radikalisasi. “Jika selama ini kita mengira media sosial bisa membuka cakrawala, sebaliknya Ia juga bisa mempersempit pemikiran seseorang”, ujar Iqbal. Hal ini terjadi manakala seseorang membatasi media sosialnya di grup-grup yang berisi wacana radikal. Gempuran informasi dari website-website yang berpaham radikal ini juga memunculkan sumber pengetahuan dan otoritas baru. Muncul figur-figur berpaham radikal yang dijadikan rujukan dan panutan oleh banyak orang. Sumber-sumber pengetahuan agama yang dulu menjadi pegangan banyak ulama-ulama kini mulai ditinggalkan.

    Terbukanya penyebaran ajaran yang radikal ini juga semakin meningkatkan ujaran kebencian. Ujaran kebencian ini digunakan kelompok radikal sebagai alat mobilisasi dan alat membangun simpati. Iqbal memberikan contoh kasus LGBT yang belakangan ini marak. Banyaknya pihak yang menentang LGBT kemudian dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dengan menggunakan wacana anti-LGBT untuk menarik simpati dan mempopulerkan diri. Hal-hal serupa juga terjadi pada kasus-kasus yang melibatkan kelompok minoritas yang dianggap sesat seperti Syiah dan Ahmadiyah. Pada gilirannya ujaran kebencian di media sosial ini mampu memobilisasi orang untuk melakukan kekerasan atas nama agama.

    Apa yang harus dilakukan?

    Di akhir diskusi Iqbal menyampaikan perlunya gerakan untuk menghadang ujaran kebencian. Menurut Iqbal, melarang ujaran kebencian tidak sama dengan menghambat kebebesan berpendapat. Jika ucapan seseorang sudah mulai mengarah pada penghinaan yang menistakan martabat seseorang hingga menyamakan dengan hewan/setan dan provokasi untuk melakukan kekerasan maka hal tersebut telah tergolong sebagai ujaran kebencian. Kebencian ini justru nantinya akan berakibat pada pelarangan diskusi/pemutaran film yang selama ini sudah terjadi di berbagai tempat. “Hate speech itu sama dengan anti-speech. Justru bertentangan dengan semangat kebebasan berpendapat”, ujar Iqbal. Meski demikian Iqbal juga menekankan perlunya kehati-hatian dalam menghalau ujaran kebencian karena jika salah sasaran justru dapat dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk melegitimasi kebencian mereka.

     Selain itu soal ujaran kebencian, perlu juga untuk melakukan upaya-upaya penelusuran sejarah untuk mempopulerkan kembali tradisi-tradisi di masa lalu dalam merawat perdamaian. Potret masyarakat Indonesia yang cinta damai perlu lebih banyak dihadirkan di masa sekarang dengan meneladani tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh agama yang selama ini merawat kerukunan di berbagai daerah. “Memori tentang persaudaraan masa lalu itu harus diadakan terus”, tambah Iqbal.

    Sebagai penutup Iqbal kembali mengingatkan kalangan moderat untuk mengisi ruang kosong yang selama ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal. “Kelompok radikal sebagai otoritas pengetahuan baru sangat pintar melihat kebutuhan masyarakat. Masyarakat sukanya hal-hal sederhana seperti cara beribadah yang baik, cara mendidik anak, cara menjadi pengusaha sukses,” ujar Iqbal.

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 66
 Total Visitor : 47918
 Hits Today : 418
 Total Hits : 170065
 Visitor Online : 1