• Penyelesaian Konflik di Indonesia Dinilai Belum Menyentuh pada Akar Permasalahan

    SATURDAY, 12/12/2015 ||00:00:00 WIB img

    Pada diskusi hari Jumat, 11 Desember 2015 dengan tema ““Atas Nama Agama? Sebuah Tinjauan Atas Kekerasan di Aceh Singkil dan Tolikara”, Elga Sarapung mengingatkan pentingnya mengelola perbedaan. Dalam kesempatan tersebut, Direktur Institut DIAN/Interfidei ini memaparkan dua kasus kekerasan atas nama agama yang terjadi di Aceh Singkil.

    “Di hampir semua pristiwa konflik, akar masalah belum pernah ditelusuri benar. Akar masalahnya apa? Semua bilang faktor ekonomi, orang jadi miskin tidak berpendidikan dan gampang diprovokasi. Tapi apakah ada faktor lain? Termasuk pemahaman tentang agamanya bagaiaman lalu sikapnya seperti apa?” tutur Elga.

    Selain menghadirkan Elga Sarapung, diskusi yang diselenggarakan atas kerjasama Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada dan Institut DIAN/Interfidei  tersebut juga menghadirkan Rizal Panggabean sebagai pembicara. Selaku akademisi yang memiliki perhatian khusus pada resolusi konflik dan perdamaian, Rizal menyoroti proses rekonsiliasi pada kasus-kasus kekerasan atas nama agama di Indonesia.

    Dalam sesinya,Rizal menganggap selama ini rekonsiliasi yang dibangun dengan baik. Dosen Hubungan Internasional UGM itu menambahkan, kita seharusnya mulai melihat masalah bersama dengan menanganninya dengan bersama-sama pula. “Tempat ibadah itu adalah masalah bersama. Jangan diselesaikan secara sepihak. Masalah rekonsiliasi dan toleransi adalah masalah bersama. Menutup dan membakar gereja itu namanya penyelesainnya secara sepihak,” ungkap Rizal.

    “Kritik kita yang pertama bagi agama dilihat dari sudut toleransi, apakah agama-agama masih giat suarakan toleransi atau apakah terus tekankan sisi ekslusif dengan menganggap yang berbeda itu sebagai lawan atau musuh. Umat beragama siap hidup berdampingan tidak? Mereka mau mengaanggap yang tidak sama dengan mereka setara atau lebih rendah tidak? Mereka mau bergaul atau tidak? Jadi tidak hanya bagaimana kita melihat perbedaan, kesetaraan tapi juga adanya  interaksi. Dalam konteks sosial, tolak ukur toleransi adalah engangement, berinteraksi,” jelas Rizal.

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 65
 Total Visitor : 112339
 Hits Today : 212
 Total Hits : 355235
 Visitor Online : 1