• Agama untuk Perdamaian: Belajar dari Maluku

    THURSDAY, 11/09/2014 ||00:00:00 WIB img

    Kamis 11 September 2014, Interfidei kembali mengadakan diskusi rutin. Bulan ini Interfidei menggelar diskusi bertajuk “Agama untuk perdamaian: Pelajaran dari studi kasus konflik antar agama-agama Maluku”. Dalam diskusi kali ini kami membahas hasil penelitian Utami  Sandrayani, alumni Hubungan Internasional UGM yang berjudul “Religious Peace Building in Maluku”.

    Di awal diskusi Tami menjelaskan bagaimana peran agama dalam menghadapi konflik dan membangun perdamaian. Tami mencoba menggali konsep “Religious Peace Building” sebagai salah satu metode dan sumber daya dalam mengatasi konflik yang berlatar agama. Pembicara mengambil contoh konflik agama di Maluku karena merupakan salah satu konflik berlatar agama yang cukup besar di Indonesia. Salah satu inisiatif akar rumput yang paling awal untuk mengembangkan hubungan kohesif melalui pendekatan agama di Ambon terjadi di desa Wayame, sebuah desa yang heterogen di Ambon Baguala pantai. Melalui tim lokal yang disebut Tim 20 - yang terdiri dari 10 orang Kristen dihormati dan 10 Muslim dihormati di desa - Wayame adalah salah satu dari sedikit desa di Ambon yang mampu menjaga perdamaian di desa mereka. Menurut penulis Tonny Pariela -the dari \\\'Damai di Tengah Konflik Maluku\\\' (Perdamaian di Tengah Konflik Maluku) - kemenangan perdamaian di Wayame tidak bisa lepas dari peran besar dari Tim 20. Hal ini karena Tim 20 mampu menjaga keharmonisan di masyarakat desa Wayame sehingga penduduk desa tidak mudah terprovokasi selama konflik berlangsung.

    Selain Tim 20, pembicara juga menjelaskan peran Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) dalam konflik di Maluku. LAIM merupakan salah satu aktor agama yang paling menonjol di Ambon. Didirikan pada tahun 2001, LAIM telah menjadi dasar utama hubungan antar-agama antara Islam, Kristen, dan Katolik di Ambon. LAIM juga telah mewujudkan dan mengorganisir hubungan antaragama di antara tiga badan keagamaan utama di Ambon -Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ambon, Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) dan Keuskupan Amboina.

    Di sesi diskusi selanjutnya beberapa peserta menanggapi pemaparan pembicara dengan pertanyaan maupun berbagi pengalaman pribadi dalam hal membangun perdamaian di daerahnya. 

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 62
 Total Visitor : 112336
 Hits Today : 176
 Total Hits : 355199
 Visitor Online : 1