• Guru Diharapkan Mampu Mengajak Siswanya Memaknai Pluralitas Bangsa

    WEDNESDAY, 20/08/2014 ||00:00:00 WIB img

    Pada Rabu, 20 Agustus 2014 Interfidei bersama Forum Komunikasi Guru-guru Lintas-iman (FKGA) Yogyakarta mengadakan Seminar dan Focus Group Discussion (FGD) guru-guru pendidikan agama dan kewarganegaraan SMA/SMK se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Seminar dan FGD ini mengangkat tema “Memahami Pendidikan Pluralisme di Tengah Kemajemukan Bangsa”. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Seminar Harun Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Pembicara dalam seminar ini yaitu Abdul Moqsith Ghazali dan Elga Sarapung. Seminar dipandu oleh Wiwin Siti Aminah selaku Moderator.

    Jika silabus pendidikan kewarganegaraan sebenarnya sangat berdekatan dengan pendidikan agama. Alasan inilah yang mendasari FKGA untuk melibatkan juga guru-guru pendidikan kewarganegaraan. “Kalau kita bisa bersinergi dan berkolaborasi, alangkah indahnya, jadi kita tidak berjalan sendiri-sendiri. Antara Pancasilais dan agamis tidak bertentangan”, ucap Anis Farikhatin, Koordinator FKGA, dalam sambutannya di Seminar tersebut.

    Pada sesi pertama, Elga Sarapung memulai dengan pertanyaan, bagaimana menjadikan dan menciptakan masyarakat Indonesia beradab di tengah kemajemukan yang ada di sekelilingnya. Pendidikan, sebagai media yang berperan penting dalam membangun peradaban bangsa perlu diletakkan dalam konteks kemajemukan tersebut.

    Kesadaran menjadi dan berperan sebagai seorang guru, baik guru agama maupun PKN adalah juga kesadaran sebagai warga negara Indonesia yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia, bukan hanya kesadaran eksklusif sebagai bagian dari agama atau kelompok tertentu. Maka seorang guru harus  memiliki pemahaman tentang kenyataan pluralitas warga Indonesia dan terbuka terhadap perbedaan tersebut. Tak sampai di situ, menurut Elga, guru juga harus bisa mengajak anak didiknya memaknai perbedaan yang ada di sekelilingnya lalu mengelola dan menata perbedaan tersebut untuk kepentingan bersama.

    Dalam sesi kedua Abdul Moqsith Ghazali menyampaikan bahwa lembaga pendidikan sangat penting dalam membangun peradaban multikultur. Guru Agama dan guru PKN dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Mata pelajaran agama berdaulat pada kitab suci sedangkan PKN dilandaskan pada konstitusi. Jika disampaikan pada anak didik akan terjadi kebingunganapakah Ia akan menjadi agamawan yang baik atau jadi negarawan yang baik.  “Jika mata pelajaran agama diisi dengan cara pandang yag keras, maka itulah yang akan masuk ke dalam paru-paru intelektual anak didik kita”, ucap dosen di Universitas Paramadina Jakarta itu.

    Lebih lanjut Moqsith menambahkan pentingnya kehadiran guru agama dan guru PKN yaitu untuk mempengaruhi cara pandang anak didik mengenai orang yang berbeda dengannya. Tantangan Pluralisme ke depan bukan hanya pluralisme antar agama tetapi justru di internal masing-masing agama. Di akhir penjelasannya Moqsith menyatakan bahwa kurikulum Agama dan Kewarganegaraan seharusnya bisa bersinergi. Hal ini agar cara berpikir yang memisahkan agama dan negara, Islam dan Indonesia, tidak terjadi. “Jika masih seperti sekarang, yang satu merujuk kitab suci dan yang satu merujuk konstitusi maka akan terjadi pembelahan”, pungkasnya.

    gama dan kewarganegaraan SMA/SMK se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Seminar dan FGD ini mengangkat tema “Memahami Pendidikan Pluralisme di Tengah Kemajemukan Bangsa”. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Seminar Harun Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Pembicara dalam seminar ini yaitu Abdul Moqsith Ghazali dan Elga Sarapung. Seminar dipandu oleh Wiwin Siti Aminah selaku Moderator.

    Jika silabus pendidikan kewarganegaraan sebenarnya sangat berdekatan dengan pendidikan agama. Alasan inilah yang mendasari FKGA untuk melibatkan juga guru-guru pendidikan kewarganegaraan. “Kalau kita bisa bersinergi dan berkolaborasi, alangkah indahnya, jadi kita tidak berjalan sendiri-sendiri. Antara Pancasilais dan agamis tidak bertentangan”, ucap Anis Farikhatin, Koordinator FKGA, dalam sambutannya di Seminar tersebut.

    Pada sesi pertama, Elga Sarapung memulai dengan pertanyaan, bagaimana menjadikan dan menciptakan masyarakat Indonesia beradab di tengah kemajemukan yang ada di sekelilingnya. Pendidikan, sebagai media yang berperan penting dalam membangun peradaban bangsa perlu diletakkan dalam konteks kemajemukan tersebut.

    Kesadaran menjadi dan berperan sebagai seorang guru, baik guru agama maupun PKN adalah juga kesadaran sebagai warga negara Indonesia yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia, bukan hanya kesadaran eksklusif sebagai bagian dari agama atau kelompok tertentu. Maka seorang guru harus  memiliki pemahaman tentang kenyataan pluralitas warga Indonesia dan terbuka terhadap perbedaan tersebut. Tak sampai di situ, menurut Elga, guru juga harus bisa mengajak anak didiknya memaknai perbedaan yang ada di sekelilingnya lalu mengelola dan menata perbedaan tersebut untuk kepentingan bersama.

    Dalam sesi kedua Abdul Moqsith Ghazali menyampaikan bahwa lembaga pendidikan sangat penting dalam membangun peradaban multikultur. Guru Agama dan guru PKN dihadapkan pada situasi yang tidak mudah. Mata pelajaran agama berdaulat pada kitab suci sedangkan PKN dilandaskan pada konstitusi. Jika disampaikan pada anak didik akan terjadi kebingunganapakah Ia akan menjadi agamawan yang baik atau jadi negarawan yang baik.  “Jika mata pelajaran agama diisi dengan cara pandang yag keras, maka itulah yang akan masuk ke dalam paru-paru intelektual anak didik kita”, ucap dosen di Universitas Paramadina Jakarta itu.

    Lebih lanjut Moqsith menambahkan pentingnya kehadiran guru agama dan guru PKN yaitu untuk mempengaruhi cara pandang anak didik mengenai orang yang berbeda dengannya. Tantangan Pluralisme ke depan bukan hanya pluralisme antar agama tetapi justru di internal masing-masing agama. Di akhir penjelasannya Moqsith menyatakan bahwa kurikulum Agama dan Kewarganegaraan seharusnya bisa bersinergi. Hal ini agar cara berpikir yang memisahkan agama dan negara, Islam dan Indonesia, tidak terjadi. “Jika masih seperti sekarang, yang satu merujuk kitab suci dan yang satu merujuk konstitusi maka akan terjadi pembelahan”, pungkasnya.

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 87
 Total Visitor : 117044
 Hits Today : 203
 Total Hits : 373321
 Visitor Online : 1