• Seminar dan Forum Diskusi “Menemukan Kembali Indonesia”

    THURSDAY, 29/01/2015 ||00:00:00 WIB img

    Bertempat di Ruang Seminar LPPM Kampus 2 Universitas Sanata Dharma (USD), pada hari Kamis 29 Januari 2015 diselenggarakan seminar dan diskusi dengan tema “Menemukan Kembali Indonesia”. Kegiatanini terselenggara berkat kerjasama antara Pusdema - LPPM USD (Pusat Studi Demokrasi dan Masyarakat -Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat USD), KKPK (Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran), Dian/Interfidei, Syarikat Indonesia, Pussaka Institut, dan KIPPER. Peserta yang menghadiri acara ini Dosen dan Mahasiswa USD, serta masyarakat yang menjadi saksi terhadap tragedi 1965. Materi disampaikan oleh tiga pembicara yaitu: Galuh Wandita, Stanley Adi Prasetyo, dan Dr.Antonius Herujiyanto.

     Seminar dan forum diskusi ini dibuka dengan pemutaran video selama 30 menit yang menceritakan kesaksian tentang tragedi 1965 oleh keluarga korban kekerasan HAM. Dalam video tersebut, salah satu saksi dari keluarga korban meneriakkan keadilan kepada pemerintah berkaitan dengan tragedi tahun 1965.

    Para masyarakat berharap kepada pemerintah untuk menegakkan keadilan di Indonesia. Dan di dalam video tersebut memberi bukti kepada masyarakat bahwa di tahun 1965 benar-benar terjadi peristiwa pelanggaran HAM di Indonesia, serta usaha yang dirintis oleh KKPK Jakarta sebagai wujud pengungkapan kebenaran.

    Galuh Wandita sebagai pembicara pertama mengungkapkan berbagai akar masalah dari peristiwa Tragedi 1965 dan bagaimana menyuarakan kebenaran di Indonesia. Kasus kekerasan yang terjadi di Timor Leste, Papua, dan Aceh dapat menjadi salah satu akar terjadinya kekerasan. Kasus yang terjadi di Papua sampai sekarang masih menjadi persoalan bagi pemerintah, dan konflik ini diharapkan dapat terselesaikan dengan langkah yang di tempuh pak Jokowi yaitu membuka dialog untuk masyarakat. Dengan berbagai kasus-kasus kekerasan yang terjadi, kemudian mengadakan pembatasan baik di media maupun pada aspek kepercayaan.

    Stanley Adi Prasetyo sebagai pembicara kedua menyampaikan kesaksian tentang kekerasan yang terjadi pada tahun 1965. Peristiwa 1965 merupakan akar dari kekuatan politik untuk melawan Soeharto yang hamper menguasai seluruh bidang politik. Jauh dijelaskan tentang bagaimana peranan para tokoh pemerintah untuk mengungkapkan kebenaran dari peristiwa 1965 dan bagaimana usaha para tokoh politik mengambil bagian dalam menemukan serta mengungkapkan akar dari tragedi 1965 yang telah terjadi di masa lampau. Stanley Adi Prasetyo sangat setuju dengan langkah yang ditempuh oleh KKPK Jakarta sebagai langkah awal untuk mewujudkan terang kebenaran sehingga politik di Indonesia menjadi lebih bersih. Beliau juga berharap bahwa pemerintah dapat menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat terhadap tindakan tragedi 1965.

    Dr. Antonius. Herujiyanto, M. A sebagai pembicara ketiga menyampaikan analisis berdasarkan sastra Indonesia dari berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di Indonesia. Menurut beliau menemukan kembali Indonesia bertujuan untuk mengungkapkan dan paling tidak mengintip maknanya. Dari berbagai istilah yang dianalis, beliau mengajak para hadirin untuk mewujudkan cara tersendiri untuk keluar dari tragedi 1965.

    Setelah pemaparan materi oleh ketiga pembicara, KIPPER menyampaikan wujud dari kepedulian dengan mengajak para kaum perempuan untuk bersama-sama membuat narasi yang positif sebagai usaha ungkapan kebenaran. Sehingga semua tragedi yang telah terjadi bukan sebuah situasi yang tersembunyi melainkan peristiwa yang harus diungkapkan oleh siapa saja supaya ketidakadilan tidak akan pernah terjadi lagi di Indonesia.

    Pada sesi tanya jawab seorang peserta meminta tanggapan kepada para pembicara tentang bagaimana usaha untuk menegakkan keadilan di Indonesia. Usaha yang dapat dilakukan di antaranya membentuk organisasi, berdialog, dan menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Peran masyarakat dan pemerintah dalam peristiwa tragedi 1965 di Indonesia sangat diharapkan supaya keprokatifannya semakin menunjukkan kepedulian terhadap pengungkapan kebenaran dan keadilan. “Menemukan kembali Indonesia berarti memutuskan kembali impunitas dengan catatan tidak diulang.” demikian disampaikan oleh Galuh Wandita.

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 86
 Total Visitor : 117043
 Hits Today : 162
 Total Hits : 373280
 Visitor Online : 3