• JARINGAN ANTARIMAN INDONESIA (JAII) (Indonesia Interfaith Network)

    MONDAY, 21/11/2016 ||00:00:00 WIB img

    Kepada Yang Terhormat
    1. Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo
    2. Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian
    3. Panglima TNI Gatot Nurmantyo.
    Di Jakarta
    Salam Damai,
    Pertama-tama, perkenankanlah kami untuk memperkenalkan diri secara singkat. Kami, Jaringan Antariman Indonesia (JAII), adalah individu dan Lembaga berbasis antariman (beda agama dan keyakinan, serta beda etnis) di seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua, yang bergerak dalam berbagai aktivitas terkait dengan soal-soal kemasyarakatan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kegiatan-kegiatan yang dimaksudkan, adalah : a) dalam rangka membangun “jembatan perdamaian” di antara yang berbeda (intra dan antaragama serta etnis); dan b) dalam rangka mendorong Agama-Agama dan Keyakinan yang ada dan hidup di Indonesia untuk mampu menjadi Rahmatan lil alamin atau “pembawa” damai sejahtera bagi semua orang, seluruh warga masyarakat, dengan latarbelakang apa pun juga. JAII, lahir di Malino, Sulawesi Selatan pada tahun 2002. (http://www.interfidei.or.id)
    Kami, Jaringan Antariman Indonesia (JAII), menjumpai Bapak-Bapak dengan semangat kebangsaan, kemanusiaan, dan keadilan sosial yang kuat dan kesadaran yang dalam tentang ke-Indonesia-an, demi memaknai wujud realitas pluralitas masyarakat Indonesia yang telah terukir sebagai sunnatullah dalam kesejarahan yang tak dapat ditolak, apalagi ditiadakan oleh siapa pun juga. Kami sungguh-sungguh berharap agar Indonesia dapat dipelihara dan dipertahankan sebagai sebuah Negara dan Bangsa yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945.
    Kami sangat prihatin dengan sederet situasi yang terjadi akhir-akhir ini. Menurut kami, situasi saat ini sudah mulai mengganggu bahkan mengancam keutuhan hidup berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia ini. Situasi mana tercermin secara terang-benderang di dalam dan melalui “peristiwa 4 November 2016” di Jakarta. Bagi kami, apa pun kekuatan yang sedang berusaha mengganggu dan mengancam keutuhan hidup bangsa dan negara Indonesia, sudah selayaknya harus dicegah dan tidak diperbolehkan hidup dan berkembang di mana pun di seantero wilayah Nusantara.
    Kesejarahan bagsa ini sudah tumbuh dalam realitas majemuk. Maka tentu saja tidak dibenarkan jika ada gerakan egoistis dan sakartis baik yang dilakukan individu atau organisasi untuk menghidupkan baik dalam wacana bahkan gerakan politik apa pun yang bertentangan dengan Pancasila dan Konstitusi Negara Republik Indonesia. Pertentangan terlihat bukan saja secara inkonstitusional dan anti-nasionalisme, tapi juga bertentangan dengan makna nilai-nilai keagamaan dan keadaban yang ada di dalam agama apa pun yang ada, terutama yang hidup dan berkembang di Indonesia, yang dianut sebagian besar masyarakat Indonesia.
    “Peristiwa 4 November 2016” memberi “tanda”, indikator sekaligus pembelajaran kepada kita semua, sebagai rakyat dan bangsa Indonesia untuk sungguh-sungguh kritis, cermat dan bijak dalam menghadapi apa yang sedang terjadi di sekeliling kita, di mana pun kita berada.
    Kami sadar, bahwa kita : Pemerintah, rakyat, bangsa dan negara Indonesia sedang mengalami ancaman yang dimaksud. Gerakan itu bukan lagi mencerminkan nilai religiusitas dan sakralitas, tapi telah berbalut dengan hal-hal yang sesungguhnya sangat profan, duniawi, banal, dan pragmatis berupa provokasi, ujar kebencian, pembangunan opini, praktek politik bernuansa SARA, kekerasan mengatasnamakan agama, damai, dan konstitusi yang semu. Gerakan itu tidak terlihat sebagai gerakan kebangsaan yang membangun semangat “Kita” tapi membangun posisi diametral “Kami” dan “Mereka”, eksklusif dan sektarian, yang sangat membahayakan kita semua sebagai bangsa dan negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Bangsa dan Negara yang dibangun dan dikokohkan atas dasar keberagaman dan heterogenitas masyarakat, sejarah, etnis, dan kebudayaan yang saling menghargai dan menghormati, bukan monolitisme atau serba tunggal.
    Kami sangat menghargai apa yang sudah, sedang dan akan dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia bersama dengan Wakil Presiden dan seluruh jajaran Pemerintahan Negara RI; juga Kapolri dan seluruh jajarannya; Panglima TNI beserta seluruh jajarannya.
    Kami mendukung apa yang dilakukan Presiden Republik Indonesia, Kapolri, dan Panglima TNI, dalam menjaga dan memberi rasa aman kepada seluruh warga masyarakat Indonesia dalam menghadapi dan mengatasi berbagai gejolak situasi yang sedang mengancam bangsa kita.
    Kami memandang, di tengah perkembangan politik yang semakin mencemaskan ini,
    sangat penting aparat keamanan (Polisi, TNI, Intelijen) untuk menunjukkan independensi dan bekerja secara profesional sesuai dengan fungsi dan tugas pokoknya. Aparat keamanan tidak boleh berpihak dan tentu juga harus mencegah setiap potensi penyalahgunaan. Hal ini sangat penting dan dibutuhkan untuk menjamin dan memastikan dinamika politik-keamanan terutama di DKI Jakarta berjalan damai dan aman. Keberpihakan dan penyimpangan fungsi dan tugas aparat keamanan akan mengancam keamanan, kebhinekaan, dan merusak tata nilai demokrasi."
    Perihal proses pemeriksaan kasus dugaan “penghinaan agama”, kami mendukung apa yang sudah sedang direncanakan dan dijalankan oleh Kapolri beserta seluruh jajaran Kepolisian, yaitu melaksanakan proses tersebut secara independen, transparan, dan memenuhi kaedah-kaedah hukum formal yang diakui di negara ini. Kami juga ingin memberi catatan sangat penting kepada Bapak KAPOLRI dan seluruh jajaran kepolisian untuk tidak terjebak pada penggunaan PNPS 1965/156a KUHP dalam kasus ini. Mengapa? Bagi kami, hal itu akan membuka kesempatan selebar-lebarnya kepada kelompok-kelompok radikal untuk menjadikan Indonesia sebagai “pasar bebas” penggunaan pasal “penistaan/penodaan agama”. Akibatnya akan sangat serius terhadap kehidupan bangsa dan negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.
    Kami apresiasi bahwa proses hukum dapat disaksikan oleh rakyat Indonesia,sehingga mencerminkan sebuah proses hukum yang kerkeadilan dan berdasarkan kebenaran-kebenaran formal.
    Demikian pula kami menginginkan bahwa Kapolri beserta jajaran aparat hukum dan keamanan dapat menjalankan fungsi hukum kepada setiap pihak yang sudah mulai menggunakan ruang publik untuk menyampaikan ujaran kebencian (hatespeech). Kami tahu bahwa Kapolri sudah mengeluarkan Surat Edaran tentang larangan ujaran kebencian yang hal itu bisa memecah-belah bangsa ini dapat permusuhan dan kekerasan. Kapolri juga bisa mengusut aktor-aktor intelektual atau politik yang sebenarnya menginginkan untuk membelokkan “aksi 4 November itu” untuk kepentingan-kepentingan yang mengancam
    integritas pemerintahan yang sedang berjalan saat ini, seperti isu kudeta dan isu-isu politik murahan yang digunakan untuk melemahkan kewibawaan pemerintah dan simbol-simbol negara lainnya. Demokrasi mensyaratkan adanya etika dan kesantunan dalam praksisnya, dengan ide terbuka dan bisa diperbincangkan secara emansipatif. Bukan gerakan ekslusif yang hanya diketahui segelintir elite, dan kemudian menyusun agenda tersembunyi yang tidak mencerminkan kehendak mayoritas rakyat Indonesia.
    Kami yakin dan percaya, Presiden RI dan Kapolri serta Panglima TNI mampu menjalankan tugas yang berat ini dengan baik dan bermartabat, demi Indonesia yang adil, beradab dan damai.
    Kami, Jaringan Antariman Indonesia (JAII), selalu akan bersama-sama, bahu-membahu dengan Bapak Presiden, KAPOLRI dan Panglima TNI dalam menghadapi situasi ini.
    Demikianlah surat keprihatinan kami terhadap situasi bangsa dan negara kita saat ini dan antisipasi ke depan, sekaligus dukungan kami kepada Presiden RI, Ir. Joko Widodo, Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, dan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo.
    Kiranya, kerja-kerja serta doa-doa kita, dari latarbelakang agama dan etnis apa pun, didengar oleh Allah, Tuhan yang Maha Esa, demi kebaikan hidup masyarakat, bangsa dan negara RI, sekarang dan di masa mendatang.

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 50
 Total Visitor : 64690
 Hits Today : 131
 Total Hits : 206567
 Visitor Online : 3