• Memori Reflektif Buat Pak Djohan Effendy

    FRIDAY, 12/01/2018 ||00:00:00 WIB img

    Oleh Elga J. Sarapung

    Cukup lama berada dalam masa penantian untuk bertemu sosok yang bernama Djohan Effendi, bila dihitung sejak membaca tulisan beliau atau tentang pak Djohan. Ya, saya mulai mengenal nama Djohan Effendi sejak kuliah di fakultas Teologi UKIT, Tomohon, ketika membaca di PRISMA atau Majalah TEMPO. Itu awal tahun 1980-an. Sudah sejak saat itu, saya tahu bahwa sosok yang bernama Djohan Effendi adalah orang yang terbuka dengan perbedaan. Juga kedekatannya dengan Mukti Ali, mantan Menteri Agama yang memiliki pemikiran terbuka, tentang aktivitas kelompok Cipayung, dan lain-lain. Nah, bagaimana persisnya sosok  Djohan Effendi, pemikirannya, hal-ikhwal kesederhanaan hidupnya, belum saya tahu secara langsung karena belum pernah bertemu.

    Baru sepuluh-an tahun kemudian saya bertemu langsung. Persisnya mulai kapan, tidak ingat lagi. Yang saya ingat, suatu saat – ketika Interfidei sudah berusia 2-3 tahun (1991-sekarang), pak Djohan datang bersama  Chandra Setiawan, waktu itu sebagai Ketua Majelis Pimpinan Pusat Harian MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), wakil ketua bidang akademik, STIE IBII (yang kemudian menjadi Institut Bisnis dan Informatika Indonesia). Persisnya tahun 1993, bulan Oktober tanggal 12. Ketika itu ada acara peringatan Parlemen Agama-Agama se-Dunia di Yogyakarta, mulai 11 Oktober 1993 di gedung Wanita di Yogyakarta. Pak Djohan memperkenalkan  Chandra Setiawan ke Interfidei dan menceritakan tentang berbagai pengalaman pahit dan harapan umat Konghucu untuk mendapatkan hak hidup beragama mereka sesuai agama yang mereka yakini, serta hak-hak sebagai warga negara yang sesuai dengan Konstitusi Negara Republik Indonesia. Pak Djohan berharap, Interfidei bisa membantu mereka : “harap kita, Interfidei bisa membantu Chandra  Setiawan dan teman-teman Konghucu”. Alm. Sumartana – direktur Interfidei saat itu, langsung mengiyakan.

    Chandra Setiawan adalah, salah seorang Konfusian yang saat itu menolak mengubah identitas keagamaannya di KTP menjadi beragama lain (harus memilih di antara 5 agama yang diakui negara saat itu). Chandra yakin bahwa agama yang diyakininya adalah Konghucu dan hanya Konghucu. Penolakan ini sudah dipikirkan matang bilamana menghadapi berbagai risiko.  Apalagi saat itu rejim yang sedang berkuasa adalah rejim Soeharto. Semua orang paham, bagaimana warna kekuasaan rejim ini, termasuk dalam soal menentukan agama yang sah dan bagaimana menjalankan hidup keagamaan sesuai dengan agama yang dianut. Saat itu, belum ada-atau belum muncul-kelompok-kelompok intoleran atas nama agama, yang berjubah dan gemar kekerasan, bagi saya simbol beragama yang penuh ketakutan dan tidak percaya diri, tanda ketidakdewasaan iman karena itu mudah diombang-ambingkan oleh berbagai kepentingan, terutama politik dan uang.

    Dari pertemuan itu, Interfidei semakin intensif membela Konghucu (dan berbagai agama lain, termasuk agama lokal) yang saat itu sangat mendapatkan perlakukan diskriminatif, “tidak diakui” negara sebagai salah satu agama di Indonesia, tidak mendapatkan pelayanan hak publik mereka. Para penganut  agama tersebut mendapatkan kesulitan untuk hidup sebagai seorang Warga Negera Indonesia yang beragama Konghucu. Mei 1994, Interfidei menyelenggarakan sebuah Seminar tentang “Konfusianisme di Indonesia” di hotel Phoenix, Yogyakarta. Seminar yang menghadirkan semua pengurus Konghucu dari seluruh Indonesia. Seminar yang kemudian membawa ketua panitia (saya) diinterogasi selama 2 X 8 jam di POLRESTA Yogyakarta, dengan alasan karena Konghucu tidak diakui oleh negara (sebagai agama). Sekalipun ketika saya bertanya kepada polisi yang menginterogasi saya saat itu, “apakah bapak mengerti tentang Konghucu? Jawabnya, tidak! Ini hanya perintah, mbak.” (ada pengalaman panjang tentang soal interogasi ini, yang bisa saya bayangkan bilamana orang yang tidak mengerti hukum atau materi, maka akan menjadi bulan-bulanan pihak kepolisian saat itu). Menggembirakan, karena semua bahan Seminar tersebut berhasil diterbitkan dan disebarkan tanpa ada masalah dengan judul : Konfusianisme di Indonesia. Pergulatan Mencari Jati Diri, Seri DIAN III tahun II, November 1995. Ini hal yang membuat kami saat itu juga terheran-heran; yang bisa hanya bergembira. Boleh jadi, itu satu-satunya buku tentang Konghucu di Indonesia yang pernah terbit di saat Konghucu belum mendapat tempat di dalam sanubari kekuasaan negara saat itu. Pak Djohan adalah salah seorang yang paling berbahagia dengan buku tersebut. Lebih berbahagia karena buku tersebut kemudian dipakai untuk menjadi referensi dalam materi kelas Studi Agama-Agama di Interfidei, tentang Agama Konghucu (1997 – 2000). Buku itu diberi pengantar oleh Gusdur (Abdurrahman Wahid). Ya, saat itu, Interfidei membuka kelas Studi Agama-Agama, termasuk Agama Yahudi, Bahai, Sikh, agama lokal  yang ada dan hidup di Indonesia. Peserta belajar tentang sejarah, teologi, etika dari agama-agama tersebut.

    Suatu saat, sekitar  pertengahan tahun  1994, untuk ke sekian kalinya pak Djohan ke Yogyakarta mengunjungi Interfidei. Saat itu, Interfidei sedang mengadakan satu kegiatan bertempat di kampus UKDW. Pak Djohan membawa serta Amanda, dan memperkenalkan kepada Interfidei. Saat itu, MADIA (Masyarakat Dialog Agama) sedang dalam rencana untuk dibangun, lagi-lagi atas dorongan, dukungan semangat dari pak Djohan. MADIA pun berdiri dan mulai aktif (1995). Visi dan Misinya nyaris sama dengan Interfidei. Intinya, bagaimana agar minoritas agama dan soal perbedaan tidak didiskriminasi, tetapi dihargai. Bagaimana agar perbedaan membawa berkat, bukan kutuk. MADIA aktif di Jakarta, Interfidei aktif di Yogyakarta.

    Tahun 1994, bersama-sama Gus Dur, Habib Qirzin, Amanda, Sumartana, Ibu Gedong Bagoes Oka, Mariana Katoppo, Bachtiar Effendi, Lukman Harun, Timur Jailani, Victor Tanya, kami hadir di General Assembly WCRP di Riva del Garda, Italy. Itu pertama kali bagi kami (Amanda, Sumartana, Gus Dur, Habib Qirzin, Djohan Effendi, mungkin juga Bachtiar)  untuk hadir dalam forum tersebut. Kami (di luar Timur Jailani, Lukman Harun, Victor Tanya, Bachtiar Effendi), mendukung Gus Dur untuk menjadi salah seorang Presiden dari WCRP (World Conference of Religions and Peace), saat itu. Sebelumnya Ibu Gedong Bagoes Oka, tokoh perempuan Bali, Hindu yang sangat Gandhian, dan saat itu Ibu Gedong diproyeksikan menjadi salah seorang Honorrary President WCRP. Menjelang dan sesudah pertemuan di Italy itu ada cerita dan pengalaman menarik sekali bagi Chapter WCRP Indonesia saat itu, yang sampai kini boleh jadi hanya Amanda dan saya yang tahu dan pak Djohan serta pak Sumartana. Dari Italy itulah gagasan untuk mendirikan atau membentuk “Chapter Indonesia” yang lain muncul (istilah politik sekarang adalah “tandingan”), yang kemudian berwujud “Indonesian Conference of Religions and Peace” (ICRP). Dari sanalah embrionya, yang kemudian mulai dibicarakan secara matang ketika ada pertemuan/musyawarah Kyai-Kyai NU se-Indonesia di Mataram, Lombok (1994/1995), bersama Gus Dur, Pak Djohan, saya, John Buldock, dll., lalu di kantor PP Muhammadiyah (yang lama di Kauman),Yogyakarta dengan Buya, sampai ke Paramadina di Pondok Indah dan wisma Haji di Jalan Jaksa, Jakarta. Intinya, Indonesia perlu membentuk satu chapter yang terdiri dari anak-anak muda, dan Interfidei diminta untuk menginisiasinya. Pak Djohan sangat mensupport, juga Gus Dur.

    Dari beberapa pengalaman tersebut, sampai pada saat terakhir bertemu dengan pak Djohan pada hari, dimana besoknya akan berangkat ke Australia bersama anak-anak, saya bertemu dengan pak Djohan di apartemen di Jakarta.

    Pertama, pak Djohan adalah orang yang  suka “mempertemukan” yang berbeda, dan selalu membela, bukan saja yang terdiskriminasi atau karena aspek diskriminasi-nya, tetapi membela kebenaran.  Ini soal kebenaran, ada pengalaman lucu dengan pak Djohan. Begini. Biasanya di dalam tas “perjuangan” saya, selalu ada buku kuitansi kecil. Kuitansi itu selalu berguna, kalau-kalau akan naik taxi yang dulunya belum bisa mendapatkan print-out pembayaran, atau pembayaran lain, yang perlu saya pertanggungjawabkan ke kantor. Di Makassar dan di Papua, pernah kami (pak Djohan dan saya), naik taxi/rental. Pada saat mau turun, saya sodorkan sejumlah uang dan kuitansi, minta pak sopir menuliskan jumlah uang, beri nama dan plat nomor serta tanggal. Pak Djohan tanya, itu untuk apa? Saya katakan, untuk kantor, biar ada bukti. Pak Djohan lanjut, itu namanya kebenaran, Elga. Kebenaran kecil tetapi maknanya besar. Saya katakan, ya...itu untuk melatih diri, pak Djohan.

    Kedua, soal kesederhanaan. Benar, pak Djohan adalah orang yang sangat sederhana. Ketika saya datang ke apartmen saat itu, pak Djohan meminta kepada salah seorang anaknya untuk menunjukkan foto-foto almarhumah, istri pak Djohan pada saat terbaring di RS, kepada saya. Hati saya trenyuh sekali melihat “sepasang suami-istri” yang saya kenal dekat, saat itu semakin banyak keterbatasan fisik mereka, karena sakit.Tetapi semangat, komitmen dan saya yakin integritas mereka sangat kuat dan tidak goyah, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang warga masyarakatnya beradab, di mana perbedaan dihargai. Itu selalu yang diingatkan pak Djohan tentang manfaat keberadaan Interfidei : “yang kita perlukan bukan hanya semangat, komitmen, dan uang, tetapi integritas!”.

    Dari sekian banyak pengalaman bersama pak Djohan : berkunjung dan menginap di rumah beliau (sejak di Proklamasi 51, saya pernah menginap di sana beberapa kali, pernah bertemu di rumah di Geelong, juga di Widya Chandra),  bertemu  di banyak kegiatan, kesederhanaan itu sangat kental : material, suasana hati bersama orang lain, sampai kepada irit bicara. Dari semua pengalaman itu, saya duga, alasan lain yang membuat pak Djohan memilih untuk dimakamkan di Melbourne adalah, karena soal kesederhanaan ini. Sampai untuk urusan “rumah masa depan” pun,  pak Djohan sudah mempersiapkan sebelumnya. Hal yang hampir-hampir sulit dimengerti dengan akal. Bila pengenalan saya tentang sosok pak Djohan tidak meleset, maka pilihan untuk dimakamkan di Melbourne, bukan di samping istri, bukan di dekat para karib atau mantan murid yang sayang kepada pak Djohan, bukan di pemakaman yang sangat luxury, mahal, di Sandiego Village, adalah karena kesederhanaan, hal yang kecil tapi memiliki makna yang sangat dalam.

    Artinya, bukan karena tidak mau berdampingan dengan almarhumah, istri yang sangat setia menemani, mendampingi, termasuk selalu berusaha memasakan dan memberi makanan kepada pak Djohan dengan makanan kesukaan pak Djohan – sekalipun almarhumah sendiri sangat terbatas dengan keadaan fisiknya, tetapi karena pak Djohan tidak ingin merepotkan banyak orang, juga tidak ingin di tempat yang mahal, mewah. Itulah cara pak Djohan menunjukan kesetiaannya kepada istri, kepada anak-anak, dan kepada banyak orang yang sayang kepada pak Djohan, yaitu “kesederhanaan”. Itulah cara pak Djohan mendidik kita semua, benar-benar dimulai dari diri sendiri sebagai contoh. Sekalipun segala sesuatu sudah dan bisa tersedia, tetapi pendidikan yang mendidik adalah ketika kita mampu memberi contoh konkrit, keteladanan. Itulah pak Djohan. Artinya, kesetiaan kepada istri, kepada keluarga, kepada komitmennya terhadap warga masyarakat yang terdiskriminasi, yang sederhana, komitmennya kepada bangsa dan negara, adalah KESETIAAN DAN INTEGRITASNYA pada kesederhanaan. Kesederhanaanlah yang “dibawa” sekaligus yang ditinggalkan untuk menjadi pembelajaran banyak orang. Hidup dan mati pak Djohan adalah untuk dan di dalam kesederhanaan. Kesederhanaan adalah pilihannya, dan itu dengan mengorbankan banyak hal yang mungkin bagi banyak orang sulit dipahami. Tapi, itulah pak Djohan Effendi.

    Hal berikut adalah, tanpa banyak omong apalagi berteriak soal hak-hak perempuan, gender dalam hal kepemimpinan- pak Djohan sudah melaksanakannya. Bagi saya, pak Djohan adalah sosok pemimpin, tokoh yang memahami kapasitas dan kebolehan perempuan, dan karena itu sangat menghargai perempuan. Bayangkan, ketiga lembaga antar-iman yang sejak awal didukungnya, dan menjadi “rumah gaul dan simbol dari spirit” pak Djohan bersama dengan banyak orang yang perbedaannya  tanpa batas, ketiganya dipimpin oleh perempuan : Saya (Interfidei); Amanda (MADIA); Musdah (ICRP). Bagi saya, hal ini bukan kebetulan, tetapi karena pak Djohan – si pemikir yang pendiam, guru, sahabat, penasihat dan kakak saya, adalah orang yang terbuka, baik dengan semua perbedaan agama dan kepercayaan, semua etnis, juga generasi dan gender.

    Pak Djohan, sosok yang sangat saya hormati, kami hormati, baik Interfidei maupun secara luas, Jaringan Antariman Indonesia (JAII), dari ujung Papua sampai Aceh. Jazadmu telah tiada. Kau tidak bakalan datang memperkenalkan seseorang lagi kepada kami secara fisik, kaupun tidak bakal gelisah ketika melihat, mendengar dan mengetahui berbagai gejolak individu dan kelompok yang mengatasnamakan agama dan bertindak seperti orang-orang yang tidak beriman dalam keagamaannya, dan karena itu senang pada kekerasan dan arogansi keagamaan karena menganggap diri mayoritas dan paling benar. Semangatmu telah, sedang dan akan tetap memperkenalkan banyak orang kepada kami, dan kami kepada banyak orang. Bahwa kita semua adalah satu dan sama di hadapan Allah yang telah menciptakan kita. Terima kasih atas semua kata, sikap, laku dan keteladanmu, sederhana adalah spirit yang kuat, dalam dan berkarakter. ***

    Pondok sagu, 2 Januari 2018

    Elga J. SARAPUNG

    Direktur Institut Dialog Antar-iman di Indonesia/Interfidei

    Http://www.interfidei.or.id

     

     

     

     

     

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 38
 Total Visitor : 106380
 Hits Today : 48
 Total Hits : 336772
 Visitor Online : 1