• The Imam And The Pastor: Memutuskan Rantai Konflik dengan Kasih

    FRIDAY, 20/10/2017 ||00:00:00 WIB img

    Ruang pemutaran Lembaga Indonesia Prancis (LIP) sudah dipenuhi oleh para penonton yang datang dari berbagai kalangan, mahasiswa, pelajar, dosen, guru, peneliti, dan juga penonton umum lainnya. Mereka tidak hanya berasal dari Yogyakarta, akan tetapi terdapat pula penonton yang berasal dari luar Yogya. Hari itu mereka datang untuk mengikuti pemutaran dan diskusi film “The Imam and The Pastor” , bahkan mereka rela duduk melantai karena memang ruang pemutaran sudah sangat penuh dengan peserta diskusi.

    Film ini menceritakan upaya membangun rekonsiliasi yang dilakukan di Negeria saat mengalami konflik internal antara kelompok Muslim dan kelompok Kristen. Melalui dua tokoh, Imam dan Postor, film ini menyajikan upaya membangun damai yang tentu saja tidak mudah, baik bagi diri kedua orang tokoh tersebut maupun bagi seluruh mayarakat Nigeria yang pernah terlibat konflik baik langsung maupun tidak langsung.

    Pada 1990-an, Imam Muhammad Ashaf dan Pastor James Wuye memimpin dua kelompok milisi yang saling berperang di negara mereka, Nigeria. Keduanya terlibat konflik secara langsung. Pada saat itu telah banyak korban yang meninggal akibat perang sipil tersebut. Sampai di suatu titik, kedua pemimpin tersebut mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa konflik tersebut terus berlangsung seperti tidak akan pernah berakhir. Dari hasil refleksi kedua tokoh tersebut, mereka akhirnya memahami bahwa konflik diakibatkan oleh keinginan untuk balas dendam. Keinginan itu akan menjadi lingkaran setan yang terus berputar tanpa akhir jika tidak dihentikan. Pada suatu kesempatan, lewat ajaran agama masing-masing, mereka mencari arti kata memaafkan.

    Imam Ashaf dan Pendeta James akhirnya bertemu dan saling memaafkan yang dimulai dari diri mereka sendiri. Lalu, mereka berdua memutuskan untuk bekerja sama mengatasi konflik-konflik yang bernuansa agama dan etnis. Melalui Pusat Mediasi Antar-Iman (Interfaith Mediation Center), lembaga yang mereka dirikan, kedua tokoh ini sangat berjasa menyebarkan benih-benih perdamaian tidak hanya di Negara mereka, akan tetapi juga bagi masyarakat Afrika secara keseluruhan serta dunia.

    Pada kesempatan itu, Elga Sarapung, Direktur Institut DIAN/Interfidei, menjadi pembahas dalam pemutaran dan diskusi yang dimulai dari pukul tiga sore hingga menjelang magrib. Selain itu, pembicara yang juga hadir ialah Diah Kusuma ningrum yang merupakan dosen di FISIPOL dan Magister Pedamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada. Interfidei sendiri sudah melakukan pemutaran dan diskusi film ini sejak beberapa tahun yang lalu ke beberpa daerah seperti Poso, Banjarmasin, Ambon, dan lainnya.

    Dalam kesempatan itu, ELga memulai dengan menekankan bahwa agama dapat pula mendorong orang untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain yang berbeda, misalnya pada konflik di Ambon dan di Poso. Dalam film dokumenter ini, apa yang menjadi perhatiannya juga terkait soal pesan baik yang diperoleh kedua tokoh agama tersebut saat mendengarkan khotbah yakni jika kamu masih memiliki kebencian terhadap manusia lain maka kamu tidak layak menjadi pembawa pesan atau ajaran agama. Dari khotbah tersebut kemudian keduanya, imam dan pastor, melakukan refleksi ke dalam diri mereka sendiri.

    Elga menyampaikan bahwa setiap agama memiliki bahasa yang sama yaitu “Kasih”. Kasih ini yang kemudian menjadi nilai penting yang harus dimiliki oleh setiap orang. Pada tanggal 13 Oktober 2007,  138 pemimpin agama dan intelektual Islam berkumpul untuk mencari jalan keluar, hasilnya adalah surat terbuka (An Open Letter and Call from Muslim Religious Leaders) yang ditujukan kepada pemimpin Kristen di dunia. Dalam dokumen tersebut, Elga mengangatakan salah satu hal utama yang disampaikan adalah Kasih: kasih terhadap tuhan, kasih terhadap sesama, dan kasih terhadap alam semesta.

    Dalam film ini, Diah menyebutakan mengenai rekonsiliasi dan mediasi. Kedua hal ini sangat menarik, sebab saat berbicara mengenai konflik agama maka tanggapan yang muncul karena orang terlalu serius beragama, terlalu ekstrim beragama. Sehingga orang-orang diminta untuk “mengendorin” beragamanya agar bisa berdamai. Namun, film ini menawarkan pendekatan yang berbeda. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang berkonflik didorong atau dimobilisasi oleh kemlompok agama, tapi kedua orang, Imam dan Pastor, tidak meminta orang untuk menurunkan semangat beragama. Tapi agama digunakan untuk melihat dan merefleksi ke dalam untuk menjawab persoalan konflik yang dihadapi dengan menemukan nilai-nilai agama yang mengutamakan prinsip perdamaian dan kemanusiaan. Kedua tokoh dalam film ini mampui menggunakan agama sebagai dasar rekonsiliasi dan memediasi masyarakat yang berkonflik. (Ade)

     

    (Selengkapnya, video diskusi dapat dilihat di: https://www.facebook.com/DianInterfidei/videos/1223688594444088/)

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 41
 Total Visitor : 72106
 Hits Today : 79
 Total Hits : 224675
 Visitor Online : 1