• Tanoker Ledokombo: Kepompong Perdamaian dari Desa

    TUESDAY, 03/10/2017 ||00:00:00 WIB img

    Setelah lebih dari 20 tahun di Jakarta, pada Juni 2009 pasangan Suporahardjo dan Farha Ciciek bersama kedua anak mereka pulang kampung ke Ledokombo. Tujuannya untuk menemani dan merawat ibunda Lek Hang (panggilan akrab Suporahardjo) yang mulai sakit-sakitan. Tidak lama setelah menetap di Kecamatan berpenduduk sekitar 63.000 jiwa itu, mereka memutuskan untuk masuk dalam pusaran masalah setempat.

    Kawasan Ledokombo merupakan salah satu wilayah marginal di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Wilayah berbukit dengan hamparan sawah dan ladang ini telah membuka mata hati Lek Hang dan Ciciek akan adanya anak-anak yatim piatu sosial. Maksudnya, anak-anak yang sejatinya mempunyai orangtua namun mereka seringkali terpaksa hidup terpisah dengan mereka karena salah satu atau keduanya pergi meninggalkan desa untuk mencari nafkah. Biasanya pengasuhan anak-anak ini diserahkan kepada kakeknenek, saudara, tetangga, atau dititipkan ke Pesantren.

    Anak-anak yang menurut terminologi PBB disebut children left behind ini kerap mengalami pelbagai masalah. Seperti putus sekolah, buta aksara, kecanduan narkoba dan minuman keras (miras), terlibat dalam sejumlah bentuk kriminalitas, gangguan psikologis karena kurang perhatian dan kasih sayang, rentan terhadap perdagangan manusia, pengangguran, berbagai kekerasan di dalam rumah tangga maupun di dalam masyarakat, rentan terhadap ancaman HIV/Aids, pernikahan di bawah umur, dan sebagainya. 

    Melihat permasalahan yang terjadi, pasangan aktivis tersebut memutuskan untuk tidak boleh berdiam diri, namun perlu melakukan sesuatu. Sejak itu, perjalanan penuh tantangan dimulai. Semua dilakukan dengan belajar sambil bermain (learning by doing and playing).

     

    Bermain yang Tidak Main-Main

    Awalnya dari permainan egrang yang diajarkan Lek Hang kepada ke dua anak laki-lakinya, Mokhsa dan Zero, di kebun belakang rumah. Dari situ, banyak anak-anak yang kemudian berdatangan untuk ikut bermain. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh pasangan aktivis ini. Mereka menyemangati anak-anak tersebut dan mengajak mereka bermain serta belajar bersama. Buah manisnya segera terlihat. Atas inisiasi anak-anak juga, pada 10 Desember 2009 komunitas belajar-bermain Tanoker Ledokombo dideklarasikan.

    Kata “Tanoker” berasal dari bahasa Madura yang berarti kepompong. Ada proses panjang yang dilalui seekor ulat kecil sebelum berubah menjadi kupukupu cantik. Anak-anak di tahap tumbuh kembang, tentu membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri. Tanoker hadir sebagai taman bermain dan ruang belajar bagi anak-anak di desa, di mana mereka selanjutnya dapat menikmati ragam proses untuk menjelma menjadi kupu-kupu yang indah dan mampu terbang bebas, tidak terkungkung stigma sebagai orang desa.

    Dari desa kecil bernama Ledokombo, Tanoker mencoba memoles arus deras perkembangan zaman dengan permainan egrang dan permainan tradisional lainnya. Bermain egrang bagi anak-anak Tanoker tidak hanya perkara berjalan di atas tongkat kayu, tapi egrang bagi mereka adalah alat yang mampu menyatukan anak-anak dari berbagai kelas, suku, agama, dan budaya. Egrang membangun rasa percaya diri anak-anak melalui kolaborasi yang mereka buat. Mereka memainkan egrang dengan tari, musik, drama bahkan juga puisi. Dari egrang, anak-anak dapat belajar keseimbangan hidup, berjuang untuk terus tegak, dan bisa berlari kencang. Juga belajar untuk merasakan sakit saat terjatuh, kemudian bangkit dan belajar lagi.

    Dalam kepompong Ledokombo, melalui permainan egrang, bambu mengalami metamorfosa. Jika di zaman dahulu bambu dijadikan sebagai alat berperang, berupa bambu runcing, kini di tangan dan kaki anak-anak harapan dunia ini, ia berubah menjadi bambu perdamaian. Lewat permainan egrang dan permainan tradisional lainnya, anak-anak belajar bahwa semua orang itu setara di hadapan Tuhan dan seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan potensi karunia ilahi. Puji syukur, anak-anak Ledokombo tidak saja berhasil membawa permainan egrang ini dalam pementasan di tingkat nasional maupun internasional, namun juga memberi teladan tentang semangat belajar dan menghormati liyan” kepada khalayak segala usia.

    Pembelajaran karakter didapat dan dipraktikkan anak-anak melalui pelbagai kegiatan kreatif dengan didampingi para relawan, mahasiswa, para guru,
    pendidik, dan pekerja sosial, yang datang bukan hanya dari dalam negeri tetapi juga luar negeri. Mereka belajar untuk mendengar ketika ada teman yang sedang berbicara, belajar untuk memberikan penghargaan kepada teman walau hanya dalam bentuk tepuk tangan, belajar untuk menjadi penolong ketika ada teman yang sakit, juga ketika terjatuh saat bermain. Anak-anak juga belajar bagaimana membudayakan antri saat menulis absen, saat mencuci tangan, dan berterima kasih saat menerima sesuatu. 

     

    Dari Anak untuk Desa dan Dunia

    Sebagai ruang berkreasi yang bersifat glocal (global-local), memasuki tahun 2016 atau tahun ketujuh ini, Tanoker terus berbenah agar semakin kuat dan lebih luas rmanfaatnya. Saat ini Tanoker tidak hanya membuka ruang untuk anak-anak desa, namun juga bagi seluruh masyarakat baik dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar negeri. Tanoker menjadi ruang belajar bagi semua orang dan pertemuan bagi banyak suku, bangsa, dan agama yang berbeda beda, sesuai prinsip ”harmony in diversity”.

    Tanoker adalah sebuah ranah penuh harapan, untuk menciptakan kawasan ramah anak, ramah perempuan, dan ramah lingkungan dengan pendekatan
    budaya. Berangkat dari warisan bijak para leluhur untuk membangun ruang pertemuan bagi semua orang tanpa terkecuali, agar saling menguatkan satu sama lain hingga tercipta perdamaian, keadilan dan kesejahteraan bersama.

    Lewat egrang dan anak-anak sebagai turbo perubahan sosial, masyarakat Ledokombo terus bergerak. Dalam perkembangannya, pelbagai kreasi inovatif bermunculan. Ibu-ibu mengolah limbah perca menjadi beragam jenis handycraft khas bermotif egrang dan kreasi unik lainnya. Mereka kini tidak canggung mengajari berbagai kalangan yang datang untuk belajar bersama di Tanoker. Beberapa waktu lalu mereka membimbing para mahasiswa dari Asia Timur untuk membuat boneka jari sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke negaranya. Dengan perca, ibu-ibu ikut merajut perdamaian. Mereka juga terus belajar untuk menjadi orang tua dan manusia yang lebih baik dalam wadah sekolah Bok eBok (Mother School). Belajar mulai dari diskusi Parenting for Peace” (supaya perdamaian tercipta mulai dan menyebar dari rumah) hingga mengelola sampah dan mengolah makanan sehat (saatnya revolusi dari dapur) untuk mewujudkan amanat Indonesia raya, bangunlah jiwa dan raga.”

    Di Tanoker, kini para petani setempat belajar kembali tentang pertanian yang lebih menyehatkan lingkungan dan menghormati alam, ibu pertiwi bagi kita semua. Mereka belajar memuliakan tanah air melalui pelbagai eksperimen di laboratorium mini pertanian di petak-petak sawah dan kebun Tanoker. Berangkat dari kearifan lokal, di Tanoker para guru relawan-aktivis berproses dan berjejaring dengan banyak kalangan dari pelbagai penjuru untuk menempa diri menjadi pendidik, bukan sekadar pengajar. Pemerintah Daerah setempat pun tergerak, ikut belajar dan bekerja bersama dalam proses perubahan yang tengah terjadi. Negara sudah seharusnya hadir dalam dinamika perjuangan warga negaranya.

    Saat ini Ledokombo berproses menjadi kampung wisata belajar untuk perdamaian sekaligus desa peduli buruh migran dan keluarganya (Desbumi). Hal ini merupakan sebuah bentuk ikhtiar bersama untuk memanusiawikan manusia dari pedesaan. 

    Di Tanoker, layar telah terkembang dan sayap telah mengepak. Kepompong perdamaian teruslah memberi berkat, untuk Indonesia dan dunia yang
    lebih baik!


    Informasi lebih lanjut tentang Tanoker dapat dibaca di situs www.tanoker.org, www.craft.tanoker. org, dan www.tanoker.desbumi.org.

     

    (Oleh: Grasia Renata Lingga dan Farha Ciciek/Aktivis Tanoker)

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 52
 Total Visitor : 68907
 Hits Today : 113
 Total Hits : 216789
 Visitor Online : 1