• Pemuda Lintas-Iman, Saatnya Pemuda Aktif Membangun Perdamaian

    TUESDAY, 05/09/2017 ||00:00:00 WIB img

    Ibu/bapak/teman2,sejak Jumat sore-Minggu sore, Komisi Gereja-Agama-Masyarakat (GERMASA) GPIB Paulus Jakarta yang difasilitasi oleh Institut Dian/INTETFIDEI mengadakan lokakarya selama 3 hari di Yogyakarta. Lokakarya tersebut bertema “Pemuda Lintas-Iman untuk Perdamaian” yang melibatkan 37 orang pemuda 21 orang dari GPIB Paulus, JKT dan 16 pemuda antar iman dari Yogyakarta (mah. UGM, UIN, UNY, aktivis perdamaian, dll. Yg berbeda agama dan etnis. Para peserta dari Jakarta didampingi oleh MJ dan pengurus GPIB P. Selama proses lokakarya berlangsung difasilitasi oleh Jeiry Sumampow dan Elga Sarapung.

    Perjumpaan, berkenalan, berdialog, belajar bersama, saling memperkaya dengan pengetahuan dan pengalaman, dimulai sejak dari kamar, di ruang makan di Puskat, di dalam bus, hingga di ruang-ruang dari agama-agama yg berbeda (kali ini di Borobudur, Vihara Mendut, Pesantren Pandanaran, dan GPIB Marga Mulia) serta di Institut DIAN/Interfidei. Merek belajar tentang spiritualitas Buddhism dari Bhante Santacitto, tentang Islam & perdamaian dari Kyai Husein (Cirebon), tentang radikalism dari Ustadz Zuli Qodir, tentang pesantren dan kehidupan di pesantren dari Gus Sakhok dan Mas Rustiadi (Pandanaran), tentang apa arti dan makna membangun, memelihara, memperkuat dan mengembangkan gerakan antar-iman di Indonesia (dari pengalaman 26 thn Interfidei), & mengaktifkan gerakan pemuda dalam isu antar-iman dari Gusdurian. Kemudian peserta juga belajar bagaimana tradisi Protestantism dalam melaksanakan ibadah Minggu di GPIB Marga Mulia, langsung di lokasi. Semua itu dimaksudkan agar berbagai prasangka dan streteotype tentang agama dan keyakinan lain dapat diperbaiki serta diluruskan; kebencian, curiga dapat dihilangkan.

    Dengan demikian, pikiran, rasa, dan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan memiliki dasar kuat tentang pengetahuan, pengertian dan pemahaman serta pergaulan, relasi dan kepercayaan yang baik, benar, dan kuat. Artinya, pengalaman berjumpa, bercerita, berdialog, berinteraksi sangat penting dalam membangun kejujuran, kepercayaan dan ketulusan serta obyektivitas pemikiran dan sikap konstruktif di dalam membangun hidup bersama di tengah perbedaan. Dengan cara seperti itu juga kita memiliki harapan bagi bangsa kita. Sama sekali tidak ada maksud untuk mengabu-abukan keimanan seseorang , melainkan mengharapkan masing-masing semakin kuat dengan keagamaannya sendiri. Harapan itulah yang akan menjadi bukti bahwa yang bersangkutan sudah dewasa dalam beriman, dewasa dalam penghayatan makna dan nilai keagamaannya.

    Lebih jauh lagi, makna sunatullah (anugerah Allah) dari perbedaan sebagai ciptaan Allah menjadi realitasm bukan sekedar kotbah, ajaran legal tetapi praktek hidup dan kehidupan. Sebagai warga negara, Pancasila diimplementasikan secara baik. Dengan cara ini pula, umat semua agama dan keyakinan didorong untuk bersama-sama mampu bersikap kritis, aktif dan konstruktif dalam aksi untuk melawan praktek ketidakadilan, ketidakbenaran dan segala sesuatu yg merusak kehidupan damai dan tdk bermartabat: korupsi, politisasi agama yang lebih menciptakan agama sebagai alat politik yang menjadikan kekuatan kuasa, jabatan dan uang seakan-akan "legal" untuk mematikan roh kehidupan yg bermartabat, melakukan kekerasan (apa pun bentuknyadan dari/oleh/terhadap siapa pun-termasuk atas nama agama), human trafficking, merusak SDA, diskriminasi, arogansidanegoismeberagama atas nama mayoritas/minoritas.

    Karena itu, yg perlu dibela bukan agama, bukan juga Tuhan tetapi keadilan, kebenaran, dan damai. Yang perlu dibela adalah hal yang paling mendasar, yaitu kehidupan, bukan kematian. Itulah agama-agama dan beragama yang memilik kekuatan iman, buka kekuatan uang, kuasa, jabatan dan mayoritas. Melainkan, semua kehendak baik dari Allah, dimana agama-agama dan keyakinan; beragama dan berkeyakinan benar-benar mewujudkan kehidupan yang rahmatanlil-alamin, kehidupan yang penuh dengan anugerah dari Allah.

    Agama dan beragama bukan menjadi sarana atau strategi pengadilan, penghukuman, pembantaian, pendiskriminasian, pemaksaan untuk berpindah agama, bahkan ketakutan dan rasa tidak aman. Agama dan keyakinan; beragama dan berkeyainan, kiranya menjadi kekuatan untuk membangun, menguatkan dan mengembangkan kehidupan yg menghidupkan. Jangan takut pada perbedaan, jangan menghindar dari yang berbeda, dan jangan mematikan yang berbeda. Tetapi belajarlah dari, dengan, tentang dan bersama yang berbeda. Bangunlah kehidupan yang berbeda ini dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan, kepercayaan dan harapan.Bangunlah budaya hidup beragama dengan kesadaran bahwa memang “kita berbeda”, karena itu kita perlu kelola dan maknai perbedaan dengan hal-hal di atas. Dari perbedaan kita sudah buktikan bahwa kita bisa melahirkan sebuah Negara, bangsa yang luar biasa. Itulah INDONESIA! (dibawah ini ada bbrp foto kegiatan 3 hari itu. Foto ini sebaga wujud dan hasil dari kegiatan tersebut. Salam damai dan optimisme yang berpengharapan).

     

    (oleh: Elga Sarapung/Interfidei)

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 50
 Total Visitor : 64690
 Hits Today : 152
 Total Hits : 206588
 Visitor Online : 1