• Memperkuat Toleransi Lewat Pentas Seni

    MONDAY, 04/09/2017 ||00:00:00 WIB img

    Sejumlah muda-mudi dengan apik membawakan pelbagai jenis seni pertunjukan pada 22 Januari 2016 di Gedung Seni Balairung Sari Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Gelaran ini digagas oleh Forum Komunikasi Pemuda Antar Iman (FKPAI) Kalsel, dalam rangka Refleksi Awal Tahun dengan tema Yang Muda yang Berani, yang Kreatif, dan Menginspirasi”. Mereka menampilkan sejumlah pertunjukan seperti seni tari, menyanyi, puisi, dan teater yang dibawakan para pemuda dari pelbagai agama yang ada di Banjarmasin, Kalsel.

    Setiap tarian yang ditampilkan tentunya memiliki filosofi. Misalnya Tari Dewi Seribu Tangan yang ditampilkan oleh pemudi Budha. Tari ini mengambil inspirasi dari kitab suci agama Budha Saddharma Pundarika, tentang Dewi Saharsabujanetra Avalokitesvara yang serba bisa. Di dalam kitab disebutkan bahwa Sang Dewi mempunyai 32 wujud, seribu kemukjizatan, dan mempunyai delapan keanggunan. Tari Dewi Seribu Tangan ini mempunyai makna yang mengisahkan sifat Sang Dewi yang penyayang dan penolong. Tarian tersebut menceritakan isi kitab dengan 108 gerakan. Dalam kepercayaan mereka, barang siapa mendengar, mengagumi, serta memahami isi hati Sang Dewi, mereka akan mendapatkan keberkahan. Sementara gerakan tubuh para penari yang gemulai dan indah mencerminkan keramahan serta jauh dari kesan erotis.


    Begitu juga dengan pertunjukan teater yang berjudul “Cinta Lintas Agama”. Berkisah tentang cinta dua sejoli yang tumbuh dalam perbedaan. Dikisahkan bahwa Alim, seorang muslim, yang mencintai Christy, seorang Kristiani. Cinta mereka terjalin indah di balik bayang-bayang perbedaan, namun cinta itu kemudian tunduk pada aturan hidup. Kisah percintaan kedua sejoli ini membawa kita pada bagaimana memandang sebuah perasaan yang dibatasi oleh hukum agama. Lingkungan pun juga menentang jalinan percintaan tersebut. Kedua orang tua mereka juga tidak setuju atas perasaan yang menembus batas toleransi itu. Tapi kedua sejoli tetap kukuh pada keyakinan mereka, bahwa cinta tidak salah, jadi jangan salahkan mereka untuk mencinta. Di mana cinta datang dalam pandangan yang turun ke hati, meluapkan rasa sucinya yang tak pernah melihat siapa dan apa sebenarnya kamu, dan di mana cinta itu meluruhkan setiap tebing-tebing tinggi perbedaan. Namun pada akhirnya mereka tak mampu mengindahkan cinta bila tanpa restu orang tua, dan memutuskan untuk tidak meneruskan hubungan. 

    Secara rutin FKPAI menyelenggarakan kegiatan pentas seni ini setiap awal tahun, sejak tahun 2014. Tentu dengan tema dan karya seni yang dipentaskan berbeda-beda setiap tahunnya. Mereka yang diundang dan hadir sangat beragam, dari tokoh agama, pemuda, perempuan lintas agama, perwakilan komunitas, hingga akademisi dari pelbagai kampus. Forum ini terbentuk atas inisiasi mereka yang merupakan alumni kegiatan Live In Pemuda Antar Iman LK3 lintas angkatan, yang jumlahnya terus bertambah hingga sekarang. 

    Tujuan dari kegiatan pentas seni ini untuk refleksi bersama dan menguatkan toleransi serta kerukunan antar umat beragama yang ada di Kalimantan Selatan, secara khusus di Banjarmasin. Sebagaimana mereka yakini, salah satu cara indah dalam menyampaikan pesan-pesan moral adalah melalui kegiatan seni dan budaya. Selain indah juga lebih mudah diterima. Bagi yang menyaksikan, seni adalah sebuah keramahan, memiliki pesan perdamaian dan harmonisasi yang cukup kental di dalamnya. Contoh lain, seni yang ditampilkan adalah Tari Banjar, seni tari yang dikembangkan oleh suku Banjar. Tari Banjar biasanya ditampilkan dalam satu paket, berupa tari klasik (baksa, diiringi Gamelan Banjar) maupun tari tradisional (diringi Musik Panting), dengan rempak yang senada-seirama.


    Pada dasarnya masyarakat Banjar memiliki toleransi yang kuat. Ini bisa dilihat dari sejarah Provinsi Kalsel sendiri. Meski kini Kalsel merupakan
    provinsi terkecil di Kalimantan, namun merupakan provinsi dengan jumlah penduduk yang paling padat. Di Kalsel setidaknya ada 8 etnis besar, seperti Suku Banjar, Jawa, Bugis, Madura, Bukit, Mandar, Bakumpai, Sunda, dan suku-suku lainya. 

    Saat ini, mayoritas penduduk Kalsel dari Suku Banjar. Sementara Suku Dayak (Bukit dan Bakumpai) jumlahnya kurang dari sepertiga jumlah Suku Banjar. Sebelum tahun 1957, ketika Kalimantan Tengah masih menjadi bagian dari Kalimantan Selatan, jumlah Suku Dayak lebih banyak.

    Contoh lain dari kuatnya ikatan toleransi yang dianut, misalnya seperti yang berlangsung dalam tradisi dan kehidupan keseharian suku yang ada
    di Kalimantan Selatan, yakni suku Dayak yang menghuni balai adat Dayak Meratus di Kalsel. Meski dalam satu rumah bisa berbeda agama/keyakinan/
    kepercayaan, namun tidak menghalangi mereka untuk bersikap timbang rasa satu sama lain. Demikian pula masyarakat Dayak Ngaju, Kalimantan
    Tengah, yang bermukim di rumah adat betang.


    Di akhir acara, mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan pentas seni memadukan semua tarian menjadi sebuah perpaduan yang membuat mata
    berbinar-binar, sebuah simbol sikap saling menghormati dan toleransi di antara semua agama. Kolaborasi pentas seni yang mampu menjadi peredam,
    harapannya tidak hanya terjadi di panggung, namun juga di tengah masyarakat yang plural. Kolaborasi ini dapat menjadi pengingat bersama bahwa menjaga sikap saling menghormati dan toleransi di antara perbedaan yang ada merupakan hal yang sangat penting. Seni bersifat sederhana, namun memiliki makna dan pesan yang luar biasa. Keberadaannya seperti sebuah oase di tengah kekeringan moral saling menghargai. Namun demikian, keberadaan berbagai jenis kesenian ini tidak akan bertahan tanpa adanya kepedulian masyarakat untuk terus melestarikannya, dan memberinya muatan pesan-pesan moral yang mencerahkan, terutama untuk gerakan perdamaian. (Rafiqah – LK3)

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 86
 Total Visitor : 117043
 Hits Today : 157
 Total Hits : 373275
 Visitor Online : 3