• Sekolah Lintas Iman: Ikut Meperteguh Yogyakarta sebagai Kota Toleran

    MONDAY, 27/03/2017 ||00:00:00 WIB img

    Sejak 11 Februari hingga 20 Mei 2017, Institut DIAN/Interfidei, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), dan Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta secara bersama menyelenggarakan Sekolah Lintas Iman (SLI) ke-8. Tema SLI kali ini adalah “Yogyakarta, City of Tolerance”, yang diambil dari semboyan kota Yogyakarta. Semboyan ini dideklarasikan pada tahun 2006 lalu untuk menegaskan bahwa Yogyakarta, selain sebagai kota pendidikan, pariwisata, dan budaya, juga merupakan kota toleran, yang menghargai keberagaman atau kebhinekaan.

     

    Pemilihan tema SLI ke-8 ini berangkat dari keprihatinan terhadap munculnya sejumlah kasus intoleran yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa tahun terakhir. Menurut penelitian Wahid Institute, Yogyakarta berada di peringkat kedua dan keempat dari daerah di Indonesia dengan tingkat intoleransi yang tinggi pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Saat ini, intoleransi masih terjadi. Yang terbaru misalnya kasus penolakan terhadap Yulius Suharta sebagai Camat Pajangan, Kabupaten Bantul. Oleh karena itu, usaha untuk kembali mewujudkan dan memelihara Yogyakarta sebagai kota toleran saat ini sangat dibutuhkan.

     

    Di awal penyelenggaraan, SLI ke-8 akan dibuka dengan kuliah umum (studium generale) oleh H. Herry Zudianto, SE. Akt, MM. Dalam kuliah umum yang diadakan di Gedung KH. Saifuddin Zufri, UIN Sunan Kalijaga pada Sabtu, 11 Februari 2017 ini, Walikota Yogyakarta periode 2001-2011 ini akan mengantar dan memperdalam pemahaman peserta sehubungan dengan tema SLI ke-8. Semboyan “Yogyakarta, City of Tolerance” dideklarasikan di masa beliau menjabat sebagai Walikota Yogyakarta. Dari kuliah umum ini peserta akan mengetahui apa latar belakang dari deklarasi tersebut, permasalahan yang direspon, apa saja usaha yang telah dilakukan dalam merespon, kendala yang dihadapi, serta bagaimana masa depan atau prospek toleransi dan keberagaman di Yogyakarta.

     

    Selanjutnya, sebanyak 30 peserta akan mengikuti serial kuliah setiap Sabtu hingga 20 Mei 2017. Dalam penyelenggaraannya, SLI menggunakan pendekatan androgogis, yakni pembelajaran orang dewasa yang mengedepankan partisipasi aktif dari para mahasiswa atau peserta. Sementara metode kuliah berupa “dialog dalam aksi”, di mana proporsinya 10% berupa orientasi lapangan, 60% kunjungan lapangan, dan 30% untuk melakukan refleksi kritis. Dalam SLI ke-8 ini, kunjungan lapangan yang direncanakan di antaranya ke Pesantren Assalafiyyah 2 Terpadu, Vihara Mendut, Vihara Karangjati, Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB), Pura Jagatnata, Kantor Kementrian Agama (Kemenag) DIY, dan Kraton Ngayogyakarta. Sementara untuk narasumber dan dialog di antaranya dengan Gubernur DIY, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) DIY, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, dan Forum Komunikasi Umat Beriman (FKUB) DIY.  

     

    Dengan mengikuti SLI ke-8, para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa aktif dari ketiga perguruan tinggi penyelenggara diharapkan semakin paham tentang mengapa Yogyakarta perlu menegaskan diri sebagai kota toleran, sejauh mana dan mengapa penegasan tersebut saat ini menghadapi ujian, serta apa yang secara kongkrit dapat dikontribusikan bagi terwujudnya Yogyakarta sebagai city of tolerance. Sebagaimana SLI sebelumnya, rangkaian kuliah yang diselenggarakan tidak sekadar memberi pemahaman atau memperluas wawasan, namun juga menginspirasi peserta untuk mengambil peran aktif sebagai agen perubahan dengan ikut mewujudkan dan memelihara Yogyakarta sebagai kota yang toleran terhadap keberagaman. (Otto)

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 41
 Total Visitor : 72106
 Hits Today : 50
 Total Hits : 224646
 Visitor Online : 2