• Babak Sunyi Wiji Thukul

    MONDAY, 30/01/2017 ||00:00:00 WIB img

    Setelah 19 tahun Reformasi berlalu, 13 aktivis yang diduga diculik tetap tak tentu rimbanya. Satu dari mereka adalah sosok kerempeng berlidah cadel bernama Wiji Thukul, penyair yang puisi-puisinya dianggap momok oleh rezim militeristik Soeharto. Film Istirahatlah Kata-Kata berkisah tentang pelariannya sebelum hilang.

    Di sebuah tempat cukur rambut, percakapan remeh-temeh memendam ketegangan yang ngilu. "Kalau Mas yang pakai topi itu, asli mana?" Si tentara (diperankan Arswendi Nasution) bertanya kepada Wiji Thukul (diperankan Gunawan Maryanto)-sang buronan penguasa Orde Baru yang tengah dalam pelarian di Pontianak, Kalimantan Barat, itu.

    "Jawa Pak," sahutnya lirih, dengan suara yang seperti mau menelan kata-kata sendiri.

    "Ah, Jawa. Saya hafal Jawa. Jawa mana? Semarang? Apa Solo? Jogja? Nah, waktu saya tugas di Jogja, pas ada petrus (pembunuhan misterius). Semua preman di-dor. Pokoknya yang bertato di-dor. Ya ., preman memang enggak ada gunanya. Bikin resah. Tapi itu politik. Supaya rakyat tahu hukum, taat hukum. Dan yang paling penting, takut sama aparat hukum," ujar si tentara terkekeh.

    Tanpa todongan bedil, tanpa bentakan, sutradara dan penulis naskah film ini Yosep Anggi Noen menjejalkan nyerinya rasa terteror takut.

    Nyanyian sunyi

    Wiji Thukul terkenal karena penggalan sajak ikoniknya "hanya satu kata, lawan!". Ia "cuma" penyair, tapi rajin membacakan sajaknya dalam demonstrasi. Syairnya menghidupi entah berapa unjuk rasa, menggelorakan ribuan buruh dan mahasiswa agar bernyali turun ke jalan-jalan yang dijaga pentungan dan bedil saat Soeharto tengah perkasa berkuasa.

    Karena penggalan sajak "hanya satu kata, lawan!" dan puisi-puisi agitatifnya, Thukul dianggap berbahaya. Kerusuhan 27 Juli 1996 yang terjadi karena massa dan tentara menyerbu kantor pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jakarta dijadikan penguasa untuk mengambing-hitamkan Wiji Thukul. Sejak Agustus 1996, ia lari dan dilarikan, berpindah-pindah tempat demi menghindari kejaran penguasa. Film Istirahatlah Kata-kata mengisahkan babak pelarian Thukul di Pontianak, Kalimantan Barat.

    Itulah babak sunyi seorang Wiji Thukul. Tak ada adegan aktivis buruh yang berteriak, "lawan!". Yang ada adalah kecemasan Thukul, yang butuh meneguk tuak agar bisa lelap. Yang ada adalah Wiji Thukul yang suka memandang kosong ke arah ujung jalan, nanar jika mendengar orang datang, lalu menarik daun topi dalam-dalam, yang bahkan takut kepada seorang gila yang bercita-cita jadi tentara dan selalu berlagak menjadi tentara.

    "Ternyata, jadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi 'kacang ijo' bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi. Ha-ha-ha .," Thukul tertawa getir, seperti mengejek diri sendiri. Larut malam, semua orang lelap, tinggal Thukul terjaga sendiri.

    Aktor Gunawan Maryanto, yang juga seorang penyair, piawai menafsir ketakutan Thukul, sekaligus cerdas pula menafsir bagaimana kata-kata muncul menjadi puisi seorang Wiji Thukul. Nyerinya rasa terteror takut justru kuat karena puisi agitatif Wiji Thukul tak dihadirkan-termasuk tak menghadirkan penggalan puisi "Peringatan" yang ikonik, "hanya satu kata, lawan!"

    Nyerinya rasa takut digenapi lagi dengan kebisuan Sipon (istri Wiji Thukul) dan Fitri Nganthi Wani (anak Wiji Thukul yang kala itu masih bocah) menghadapi pertanyaan intel yang datang dan menggeledah rumah Thukul di Solo. Anggi memilih adegan tanpa tudingan, bentakan, tak ada keributan penggeledahan atau hamparan perabotan rumah dan buku yang diacak- acak dramatis tapi klise. Justru karena sunyi itu, nyeri Sipon yang diperankan dengan bagus oleh Marissa Anita menyatu dengan nyeri Wiji Thukul.

    Dengan babak sunyi itu, film ini keluar-masuk berbagai festival, termasuk Festival del Film Locarno 2016 dan Concorso Cineasti del Presente, Switzerland. Sejumlah penghargaan pun telah diraih oleh film yang akan mulai diputar di bioskop pada 19 Januari ini, termasuk film terbaik Apresiasi Film Indonesia. Film itu juga meraih penghargaan film terbaik, aktor terbaik, dan aktris terbaik 2016 versi majalah Tempo, dan nominasi penulis skenario terbaik dan sutradara terbaik Festival Film Indonesia 2016.

    Menjadi tautan

    Bersama produser Yulia Evina Bhara, Anggi melakukan riset satu setengah tahun untuk menelusuri riwayat Wiji Thukul, hingga akhirnya memilih babak sunyi untuk filmnya. Pilihan itu memang memberikan ruang luas bagi Anggi untuk mengeksplorasi beragam elemen film. Risikonya, film berdurasi 98 menit itu tidak akan membuat publik yang belum mengenal sang penyair menjadi tahu peran sentral Wiji Thukul dalam Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, menulis selebaran-selebaran bawah tanah, dan seterusnya.

    "Ketakutan dan kesendirian adalah sisi lain seorang Wiji Thukul. Tentu saja itu adalah tafsir kami, karena tidak ada orang yang pernah melihat Wiji Thukul sendirian dan ketakutan. Justru itulah ruang eksplorasi bagi saya dan para pelakon kami. Wiji Thukul yang keras, agigatif, berada di garda depan demokrasi bisa dikenali dari banyak literatur lainnya. Semoga pilihan kami ini menjadi tautan untuk melihat Wiji Thukul lebih dalam," ujar Anggi.

    Adik kandung Wiji Thukul, Wahyu Susilo, menyebut Istirahatlah Kata-kata berhasil menghadirkan kakaknya sebagai manusia biasa, lepas dari segala keberadaan Wiji Thukul yang dikenal sebagai aktivis pro-demokrasi. Wahyu juga mengharapkan film itu akan menaut publik untuk tahu lebih banyak tentang mangkraknya banyak pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.⁠⁠⁠⁠

     

    (Sumber: KOMPAS Minggu 15 Januari 2017/Aryo Wisanggeni)

Artikel terkait disukai 

POSTING TERBARU

STATISTIK PENGUNJUNG

 Visitor Today : 50
 Total Visitor : 64690
 Hits Today : 128
 Total Hits : 206564
 Visitor Online : 3